GOODBYE 2025

GOODBYE 2025

Lusiana Agustina

Tanggal 31 Desember merupakan hari terakhir di tahun 2025. Bagaimana kabar kalian? Aku baik-baik saja, seperti hari-hari sebelumnya- tak ada yang terlalu istimewa.

Hari ini langit mendung, hujan turun sesekali. Dari balik jendela kamar, semuanya tampak jelas. Udara terasa sejuk, seolah membuatku lupa bahwa esok hari kita akan memasuki tahun baru, 2026.  

Namun malam ini terasa berbeda. Jika pada tahun-tahun sebelumnya suara kembang api selalu terdengar, kali ini tidak. Bukan tanpa alasan. Kesunyian ini sengaja dipilih sebagai bentuk solidaritas dan empati bagi saudara-saudara kita di Sumatera yang tengah menghadapi bencana.

Di tengah peralihan tahun, doa dan kepedulian terasa jauh lebih bermakna daripada gemerlap perayaan.

Waktu berjalan begitu cepat, rasanya seperti dibuat untuk sulit bernapas lega. Meski demikian, ada begitu banyak hal yang patut aku syukuri sepanjang tahun ini.

Tahun 2025 mungkin bukan tahun terbaik bagiku, tetapi dari setiap peristiwa baik maupun sebaliknya, aku belajar banyak hal- yang akhirnya membentukku menjadi pribadi yang lebih kuat dan sadar akan diri sendiri.  

Pada tahun 2025, aku menyimpan beberapa kesan yang begitu berarti. Salah satu kesan yang terbaik adalah ketika aku dinyatakan lulus Program Profesi Guru (PPG) prajabatan pada bulan Oktober lalu.

Rasanya seperti melepaskan beban tak kasat mata- bukan karena aku tidak menikmati prosesnya, melainkan karena program ini memang dijalani dengan ritme yang padat dan menuntut.  

Menjalani program profesi guru (PPG) prajabatan dengan periode satu tahun bukanlah hal yang mudah. Sejak awal pendaftaran saja sudah banyak menyita energiku- namun justru itulah yang membuat kesan terbaik.

Ada kalanya aku tidak pernah menyangka dapat berada pada titik ini, begitu banyak tahun terlewat dan setiap tahunnya, tanpa sadar, kita selalu melangkah sedikit lebih maju dari sebelumnya.

Hal ini mengingatkanku dengan salah satu kalimat mutiara dari penulis John F. Kennedy dalam buku Belajar Merelakan karya Shunmyo Masuno,

“Perubahan adalah hukum kehidupan. Dan mereka yang hanya melihat masa lalu atau masa kini akan melewatkan masa depan. Baik kesuksesan maupun kegagalan sudah jadi bagian dari masa lalu.”

Shunmyo Masuno pernah mengatakan bahwa banyak orang cenderung berpegang erat pada apa yang membawa kejayaan pada mereka- percaya bahwa semua akan berjalan lancar jika mereka melakukan hal yang sama seperti sebelumya. Padahal kesuksesan masa lalu tidak akan menjamin semuanya bakal berjalan lancar, aku sepenuhnya setuju mengenai perihal tersebut.

Membaca kalimat tersebut menjadi pengingat sekaligus motivasi bagiku untuk terus melangkah maju tanpa terlalu terpaku pada masa lalu. Bagiku, perubahan adalah sesuatu yang wajar dan tak terelakkan.

Sama halnya dengan kehidupan kita, pertemanan, kondisi keuangan, keadaan, semuanya akan berubah dan memiliki masanya masing-masing. Ketika perubahan itu datang, aku memilih untuk tidak terlalu mempermasalahkannya. Merelakan adalah bagian dari kehidupan.

Sepanjang tahun 2025, aku belajar banyak hal. Jujur saja, aku masih sering membuat kesalahan dalam mengambil keputusan hidup. Ada kalanya aku berpikir betapa bodoh dan cerobohnya diriku sendiri.

Namun, ketika menoleh ke belakang, tak ada yang bisa kuperbaiki- yang bisa kulakukan hanyalah menarik napas pelan, lalu merelakan semuanya berlalu dan perlahan dilupakan oleh waktu.

Tahun ini juga menjadi masa bagiku untuk mencoba mengenal orang-orang baru. Usia 26 tahun kurasa bukan usia yang terlalu muda lagi, jadi tidak ada salahnya membuka diri- siapa tahu ada yang sejalan.

Namun, sepertinya Allah justru memperlihatkanku alasan mengapa sampai saat ini aku belum diberi kesempatan untuk melangkah lebih jauh dengan seseorang. Aku hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Mungkin, Allah ingin aku lebih fokus pada diriku sendiri dan tentu saja, pada-Nya.

Memasuki usia 26 tahun bukanlah perkara mudah. Meski tak selalu kuperlihatkan, kegusaran itu tetap ada dan nyata. Melihat satu per satu teman baik memutuskan untuk menikah dan memiliki anak justru membuatku bahagia. Bukan karena ingin berada di posisi yang sama, melainkan karena aku sadar bahwa setiap orang memiliki prioritas hidupnya masing-masing.

Jauh di lubuk hati, aku tahu suatu saat aku pun akan berada di fase itu. Namun untuk saat ini, ada hal lain yang ingin kukejar- terlebih karena aku belum memiliki pasangan.

Setiap orang memiliki kelebihan dan kelemahan. Semakin mengenal diri sendiri, semakin jelas pula kekurangan yang kita miliki.

Sedari dulu, aku selalu mengutamakan kelebihan ketimbang mengembangkan kelemahan diri. Bukan karena tidak ingin mengembangkan diri menjadi lebih baik. Hanya saja, aku merasa jika menyadari dan merelakan kelemahan bukanlah hal yang buruk.

Kelemahan diri cenderung ada karena itu adalah hal-hal yang tidak disukai. Misalnya, aku lemah dalam olahraga voli, sehingga sulit untuk memotivasi diri mengembangkannya, dan proses meningkatnya pun terasa lambat.

Selama itu bukanlah kebutuhan utama, aku lebih memilih merelakannya, “Mungkin memang aku tidak punya keahlian dibidang tersebut. Lebih baik terus meningkatkan kelebihan diri.”

Pada tahun ini aku juga menyadari satu hal yaitu jangan mengenakan kacamata berwarna. Itu adalah salah satu ungkapan dari Shunmyo Masuno. Apa maksud dari kalimat tersebut?

Maksudnya adalah prasangka bisa menjadi musuh terbesar dalam diri. Prasangka dapat mengaburkan cara kita melihat orang lain. Misalnya, sebelum mengenal orang itu lebih dalam, kamu sudah memiliki prasangka negatif sehingga sulit untuk menilai sesuatu dengan baik.

Kamu bisa menjadi salah menilai seseorang hanya karena mendengar berita buruk yang entah itu benar atau terlahir dari prasangka seseorang saja. Ada kalanya, kamu melihat dan merasakan secara langsung perilaku seseorang sebelum prasangka datang menghakimi.

Aku pernah mengalami konflik batin dengan seseorang yang kukenal selama setahun terakhir ini. Bermula dari hubungan teman yang baik-baik saja perlahan berubah menjadi tidak baik-baik saja. Sangat disayangkan, namun kenyataannya tidak semua orang yang kita anggap baik akan terus bersikap baik.

Kalimat tidak benar yang terucap disampaikan pada orang lain, membuat kesan buruk sehingga beberapa orang melihat diri kita menjadi berbeda. Bahasa halusnya adalah fitnah. Berita itu muncul secara tidak terduga, disampaikan oleh seseorang yang tidak memahami akar permasalahan, namun bertindak seolah-olah kabar tersebut adalah kebenaran.

Membuat nama seseorang menjadi tak bagus dan sikap orang tersebut dicap “tidak baik.” Aku memilih untuk tidak melanjutkan permasalahan kekanak-kanakan tersebut, ia lebih muda setahun dariku. Sikapnya selalu menunjukan orang baik dan lemah lembut, tapi sebaliknya, mulutnya berbisa sehingga mampu menjatuhkan orang lain.

Aku tidak memiliki energi untuk mempertahankan pertemanan yang kurang baik, cukup satu kejadian tertentu membuatku sadar bahwa tak semua orang patut kita temani. Beberapa orang menyadari jika aku mulai menjaga jarak, bukan karena takut melainkan terlalu malas untuk melihat sikapnya yang berpura-pura.

Kita memang tidak bisa menilai seseorang tanpa mengenalinya, setelah mengenalinya lebih dalam, kamu dapat menentukan untuk terus berteman atau tidak. Itu adalah hak pribadi dan tidak ada yang bisa memaksakannya.

Kurasa aku pun telah sampai pada tahap untuk bertindak sewajarnya. Jika seseorang tidak mengucapkan kata “selamat” pada pencapaianmu, tak ada kewajiban untuk selalu melakukannya pada mereka.

Begitu pula jika seseorang tak mengingat ulang tahunmu, tak perlu memaksakan diri untuk mengingat milik mereka. Terdengar dingin dan egois, tetapi bagiku, jangan menaruh ekspetasi berlebihan pada orang lain. Kita berhak memperlakukan orang sebagaimana kita diperlakukan.

Pada tahun baru, aku berharap dapat menjadi individu yang lebih baik lagi, lebih dewasa, dan lebih bertanggung jawab- terutama pada diri sendiri serta pada hidup yang kupilih.



Selama tahun baru 2026.

 

 

 

Komentar

Postingan Populer