26 SEBELUMNYA 25
26
SEBELUMNYA 25
Lusiana
Agustina
Aneh rasanya kembali menulis setelah sekian lama, apalagi dengan bertambahnya usia. Ya, tanggal 3 Agustus lalu, aku resmi berusia 26 tahun. Ada perasaan bahagia dan syukur menyambut hari kelahiran. Tentu saja, disini aku ingin bercerita mengenai kehidupanku sebelum memasuki usia 26 tahun.
Memasuki kepala dua ternyata tidak semudah saat masih remaja belasan tahun. Banyak realita yang harus kita hadapi. Umur 20-an adalah masa-masa yang penuh warna dan menyenangkan. Namun, juga melelahkan sebab penuh harapan tapi juga sering kali mengecewakan.
Pada usia 25 aku belajar banyak hal. Aku belajar bahwa apa yang kita rasakan, kita miliki, kita genggam, semua bersifat sementara. Semua akan berubah begitupula dengan dunia yang dinamis.
Misalnya, teman yang kita kenal baik akan mulai membuat cerita omong kosong yang membuat orang lain dirugikan. Atau bahkan orang yang berlagak suci dan paling benar namun selalu meminta bantuan kepada seorang laki-laki yang sudah menikah serta memiliki anak. Pada titik ini, aku bertanya-tanya: siapa sebenarnya yang pantas disebut hina.
Aku bukan tipe orang yang akan menilai orang lain. Mau dia menjilat asbak rokok pun tidak akan kupikirkan. Dunia miliknya begitu pula dengan konsekuensi tindakannya. Akan tetapi, telingaku tidak pernah berhenti mendengarkan bisikan-bisikan seseorang yang selalu menilai dan menghakimi sikap orang lain.
Apakah tindakan mereka benar-benar merugikanmu? Jika tidak, siapa dirimu hingga bisa menghakimi? Batinku sering bertanya.
Lambat laun, semua kembali ke satu tempat. Orang sulit menerima perbedaan. Manusia selalu ingin berkelompok dan memang seperti itu hukum alamnya. Ketika seseorang melihat ada hal berbeda dari kebanyakan orang. Ia akan merasa itu aneh dan mulutnya akan mulai menyebarkan keanehan yang dirinya rasakan.
Menghasut orang lain agar memiliki pikiran sama dengannya. Seakan orang berbeda tadi adalah manusia yang harus dikucilkan. Padahal, apabila kita lihat dari jauh, apa yang orang lain lakukan bukanlah urusannya. Merugikan saja tidak, lalu mengapa harus dipermasalahkan?
Hubungan antara manusia memang tidak kekal. Namun, kita hidup berdasarkan kenangan dan perasaan yang dulu pernah ada. Jadi setidaknya, mengapa tidak membuat kenangan indah daripada saling menghakimi? Aku selalu berpikir seperti itu.
Bahkan yang kau kira selalu baik dan membelamu, bisa jadi berbicara mengenaimu di belakang. Ini bukanlah hal yang baru bagi manusia bertopeng rusa. Seperti seseorang yang selalu mengajakmu main, akan tetapi ketika kau mulai membahasnya ia akan merasa tertekan seolah-olah dirimu yang mengajaknya. Aneh namun sungguh nyata terjadi.
Atau seperti seseorang yang berasa lebih muda padahal hanya berjarak satu tahun. Bertindak layaknya orang dewasa yang dapat menyelesaikan segala permasalahan namun kerap menghakimi ketika seseorang tidak tahu cara menggunakan teknologi dengan baik.
Atau seperti seseorang yang bertingkah polos namun menyakiti banyak hati. Menyalahkan satu kejadian untuk berlaku pada semua orang. Toh, orang yang disakiti juga menjalankan karma karena telah menyakiti orang lain layaknya roda kehidupan yang terus berputar untuk saling menyakiti.
Atau seperti seseorang yang menjalani kewajiban namun disangka mencari muka. Menghakimi orang akan tindakannya. Padahal dirinya bersantai ria merasakan angin bertiup kencang dan meninggalkan ruangan yang seharusnya ia tunggu sedemikian rupa.
Atau seperti seseorang yang memiliki keinginan tidak ingin hidup lama, namun dihujat dengan ‘senggolan’ kepada temannya. Seakan-akan itu hal aneh dan tidak bermutu. Padahal orang tersebut tidak mempermasalahkan dirimu yang ingin hidup lama sampai menjadi kakek-nenek.
Atau seperti seseorang yang diam-diam menghakimi cara kita menjalani hidup, tanpa menyadari bahwa dirinya sendiri telah kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga.
Mengapa ia tidak berpikir lebih jauh? Padahal menurutku, semua yang keluar dari mulut seseorang antara omong kosong atau sudah pernah melalui kehidupan sehingga dapat berbicara ringan tanpa perlu menjelaskan.
Pada akhirnya, mereka tidak sadar jika kehidupan yang dilalui setiap orang berbeda. Kebahagiaan yang dimiliki setiap orang berbeda. Begitupula dengan luka kasat mata yang dimiliki setiap orang berbeda. Dan, bagaimana setiap orang menyikapi hal itu juga berbeda.
Belakangan ini aku membaca satu buku puisi berjudul, “Hidup tetap berjalan dan kita telah lupa alasannya” karya Ibe S. Palogai. Beliau salah satu penulis Indonesia yang menggunakan medium puisi, prosa, dan esai untuk berkarya.
Ada
potongan puisi yang sangat kusukai, berada pada halaman ke 29 berjudul,
“Belajar ekonomi di kelas menulis kreatif.”
Ekonomi
saya menggunakan keras kepala sebagai kesabaran dan kemarahan sebagai
komunikasi. Ekonomi saya menganggap fiksi sebagai pembuka botol soda. Ekonomi
saya, pada akhirnya, bukan tentang menciptakan kebahagiaan, tetapi cara
memperluas pilihan dalam hidup.
Membaca itu, aku merasa tidak berbeda dengan orang-orang lain yang kerap meluapkan isakan tangisnya pada telinga yang sudah bosan mendengarkan. Aku pun sama, manusia yang kadang aneh, kadang rapuh, kadang percaya pada orang yang sebenarnya belum sepenuhnya kukenal. Salahku, mempercayai dan membicarakannya dengan lantang pada manusia yang belum genap ku kenal lebih dari kedua orang tuanya yang sudah hidup setengah abad.
Pada akhirnya, aku semakin buta dan bertingkah layaknya mereka. Menuliskan kembali perasaan yang seharusnya tidak perlu kupikirkan. Menuliskan tingkah dan ketidakadilan yang merajalela. Apakah kini, aku sedang mencari keadilan ketika wajah mereka satu persatu sudah kulupakan?
Setidaknya, aku bersyukur. Terima kasih atas cerita kekonyolan yang pernah singgah pada hidupku di kala 25 tahun. Semoga doaku tersampaikan namun raga tak harus berjumpa kembali.
Komentar
Posting Komentar