BERTAHAN HIDUP

BERTAHAN HIDUP

Lusiana Agustina

    Setiap orang pasti akan merasakan betapa indah ataupun buruknya kehidupan. Tanpa disadari, otak dan tubuh kita sangat mahir untuk memprioritaskan kelangsungan hidup. Menjaga kita dari bahaya dan ancaman akan hal-hal buruk yang pernah terjadi.

    David Perlmutter pernah berkata, “Hal-hal buruk terjadi. Dan, otak manusia sangatlah mahir untuk memastikan bahwa kita akan menyimpan jejak dari peristiwa-peristiwa tersebut. Hal ini adalah mekanisme adaptif yang penting untuk bertahan hidup.”

    Tidak ada salahnya akan pendapat David mengenai hal tersebut. Manusia memang cenderung lebih lihai menyimpang kenangan buruk yang pernah terjadi. Bukan untuk rasa balas dendam atau lainnya, tapi sebagai bentuk dari kondisi bertahan hidup.

    Sudah sewajarnya bagi seseorang untuk mencoba bertahan hidup. Sebab, bertahan hidup merupakan bagian dari program alami kita; imperatif (sesuatu yang bersifat mengharuskan) biologis ini sudah terprogram di dalam diri kita.

    Sama halnya, yang disampaikan oleh Damon Zahariades dalam bukunya, The Art of Letting Go (Seni untuk Melepaskan). Damon mengatakan bahwa, salah satu cara utama otak untuk memprioritaskan kelangsungan hidup adalah dengan mengenal dan menyimpan informasi negatif.

    Otak mengingat pengalaman-pengalaman yang membuat luka, baik secara fisik maupun psikis. Selain itu, otak juga membantu kita untuk menghindari ataupun melewati situasi yang membahayakan kenyamanan maupun keamanan.

    Hal ini memiliki banyak manfaat bagi kehidupan. Namun, saat ini dampak psikis lebih besar dari kegunaannya. Pikiran akan cenderung mengabaikan hal-hal yang positif ketika otak terus fokus pada hal negatif. Maka dari itu, jangan sampai melupakan atau mengabaikan hal-hal positif yang terjadi dalam hidup.

    Hal-hal negatif juga membuat kita enggan untuk melepaskan pikiran serta emosi-emosi negatif. Pikiran kita memang akan memperioritaskan kelangsungan hidup. Kita mempertahankan hal tersebut sehingga secara tidak langsung menganggap bahwa dengan melakukan hal tersebut akan melindungi kita dari bahaya di masa depan.

    Tentu saja, hal ini berdampak pada seluruh aspek kehidupan. Misalnya, dari aspek hubungan, karier, sampai dengan kemampuan untuk membuat keputusan yang baik. Untuk mengatasi hal tersebut, kita perlu mengatur ulang pola otak. Kita juga harus membingkai ulang kejadian-kejadian negatif di masa lalu agar bisa melepaskan hal tersebut.

    Selain itu, kita harus bisa menciptakan cara baru untuk memikirkan situasi yang ada sehingga bisa mengacuhkan aspek-aspek negatif hanya sebatas kegunaan praktisnya saja. Bagiku, hal tersebut seperti mencoba bertahan hidup.

    Emosi dan pikiran negatif akan kenangan maupun kejadian di masa lampau pastinya akan lebih berpengaruh pada psikis seseorang. Rasanya seperti ada ‘rambu merah’ yang selalu menjalar ketika kita dihadapkan oleh momen yang sama.

    Misalnya, kamu memiliki kenangan pahit dalam hubungan asmara seperti takut ditinggal, pengkhianatan, ataupun hal lainnya. Kenangan pahit tersebut akan membekas apabila kamu tidak dapat mengontrol emosi dan pikiran.

    Maka, ketika kamu dihadapkan dengan kondisi untuk menjalani hubungan. Kamu akan selalu berusaha melindungi diri dan memasang ‘alarm’ yang membuatmu bisa terhindar dari kenangan pahit yang sama.

    Padahal bisa jadi ada faktor-faktor positif dalam hubungan baru tersebut yang tidak disadari. Oleh karena itu, mengatur kembali ulang otak sangat penting.


Komentar

Postingan Populer