MELANJUTKAN HIDUP
MELANJUTKAN HIDUP
Lusiana
Agustina
Tidak terasa tahun 2024 sudah berjalan selama 5 bulan
lamanya. Meski begitu, 5 bulan terasa begitu singkat. Aku juga sudah lama
tidak menulis. Yah, setelah lulus kuliah kemarin aku sedikit sibuk
karena pekerjaan baruku.
Sama seperti yang lainnya, aku juga sedang dalam tahap melanjutkan
hidup. Kalimat tersebut mungkin terdengar sedikit klise. Mengingat aku
masih bernafas dengan baik sejauh ini. Aku bernafas baik tapi sulit untuk
berjalan seperti sedia kala.
Layaknya anak kecil yang ditinggalkan, aku seperti
orang yang tidak tahu arah. Tapi, aku harus berterima kasih akan akal sehatku
yang masih ada. Dia membuatku terus bertahan sejauh ini. Tentu, Tuhan juga
tidak akan membiarkan pikiranku kosong.
Sejauh ini, aku sangat bangga dengan diri sendiri.
Berhasil melewati satu persatu tantangan kehidupan akan jalan yang kita pilih.
Tidak mudah dan juga terasa berat. Tapi, aku adalah tipe orang yang akan
menyelesaikan apapun yang diriku mulai. Mau tidak mau. Jangan kabur!
Nyatanya, aku merasa kosong. Hasrat dan rasa haus
seperti tiada. Adakalanya aku mempunyai keinginan akan suatu hal. Bedanya
sekarang, tidak ada rasa haus itu lagi. Hanya melakukan yang terbaik.
Apa aku kehilangan motivasi? Kurasa tidak. Kata temen
dekat, aku sedikit berubah kearah positif. Menerima keadaan dengan melanjutkan
hidup. Itulah kebenarannya.
Rasa haus yang selalu ada mungkin telah hilang. Namun,
aku tetap tidak akan membiarkan diriku tersiksa tanpa makan dan minum. Anehnya,
aku mulai berdamai dengan diriku sendiri. Aku rasa, itu adalah hal yang baik.
Belum lama ini aku membaca buku karya Damon Zahariades
berjudul, The Art of Letting Go (Seni untuk Melepaskan). Buku strategi
untuk melepaskan sesuatu yang menahan hidupmu.
Damon Zahariades mampu menyihirku dalam kalimat indah
pada bukunya. Buku yang hanya memiliki 176 halaman ini justru membuat hatiku
terasa lebih damai daripada sebelumnya.
Spencer Johnson pernah mengatakan bahwa, “Kehidupan
terus berlanjut dan kita pun harus seperti itu.”
Terkesan sederhana, akan tetapi kutipan tersebutlah
yang memotivasiku melanjutkan hidup. Seakan-akan dulu aku pernah ingin
menyerah? Tidak. Aku bukanlah orang yang mudah menyerah akan sesuatu hal. Hanya
saja, ada beberapa waktu aku merasa sulit untuk melanjutkan hidup.
Tuhan-lah yang membantuku melewatkan periode sulit
tersebut. Aku tidak pernah lupa untuk terus berdoa dan memohon ampun
kepada-Nya. Bahkan, tiada satu hari pun terlewat. Karena, Dia satu-satunya
tempatku mengadu. Bukan yang lainnya.
Selain itu, ada bab spesial dalam buku The Art of
Letting Go (Seni untuk Melepaskan) yang selalu kuingat. Bab-nya berjudul,
“Kita Mengidealkan Hal-Hal yang Dipertahankan.”
Dalam bab istimewa ini mengajarkanku arti sesungguhnya
melanjutkan hidup. Damon Zahariades memaparkan bahwa terkadang kita
mengidealkan gagasan mendapatkan gelar dan karenanya sulit untuk melepaskan
keputusan untuk hidup tanpa pendidikan lanjutan.
Kita mengidealkan pencapaian tujuan-tujuan tertentu
dan karen aitu memiliki kesulitan untuk melepaskan kekecewaan karena tidak
dapat mencapainya.
Tendesi untuk mengidealkan masa lalu kini selalu
berujung pada kesedihan, rasa frustasi, dan kekecewaan. Akan tetapi, kita dapat
menghentikan kebiasaan ini dan mengizinkan diri untuk melihat keadaan dan masa
lalu secara realistis.
Ketika melakukannya, kita akan menjadi lebih mudah untuk melihat masa lalu melalui lensa pragmatis, kemudian melepaskannya dan berikutnya melanjutkan kehidupan.
Komentar
Posting Komentar