TERSESAT DI JALAN YANG BENAR

TERSESAT DI JALAN YANG BENAR
Lusiana Agustina


    Kemarin lagi rindu-rindunya nonton salah satu channel youtube favoritku yakni Gita Wirjawan. Alhasil aku menonton video dengan judul, Dr. Fahruddin Faiz: Akal Budi Tidak untuk Disia-siakan #110. Dari judul aja sudah bikin penasaran kan ya, khususnya buat aku yang memang tertarik pada filsafat. Inget! cuman tertarik saja. Video itu seru dan membuatku penasaran sama sosok tamu, tidak lain Dr. Fahruddin Faiz. Dr. Fahruddin Faiz atau sering disebut Ustad Fahruddin Faiz. Beliau dilahirkan di Desa Ngrame kecamtan Pungging Kabupaten Mojekerto, Jawa Timur pada tanggal 16 Agustus Tahun 1975. Beliau adalah seorang filsuf, akademisi, dan juga merupakan pakar dalam Filsafat Islam.

    Mengingat perjalanan beliau, buat aku jadi nostalgia dengan hidupku sendiri. Itulah mengapa, tulisan kali ini berjudul, Tersesat di jalan yang benar. Sebelumnya, aku sudah sering bercerita betapa malasnya diriku saat waktu sekolah sampai-sampai tidak pernah terpikirkan untuk kuliah dimana dan jurusan apa. Hidupku mengikuti arah perginya angin, tidak jelas. Salah satu penyebab utamanya adalah nilaiku yang tidak terlalu bagus sehingga aku tidak ingin memikirkan hal yang sulit seperti mengikuti tes untuk berkuliah lagi. Justru aku lebih memilih berkuliah di Universitas swasta dengan jurusan yang cukup aku tahu, jurusan ilmu komunikasi. 

    Jurusan itu saja yang aku ketahui sebab aku juga tidak pernah kepo atau mencari-cari jurusan apa yang cocok buatku toh, yang penting kuliah. Itulah yang kupikirkan. Tapi, takdir berkata lain sebab dorongan dari Papahku tepatnya (pemaksaan mengikuti seleksi tes) yang selebihnya sudah aku ceritakan pada tulisan blogku sebelumnya. Jurusan ilmu komunikasi memang jurusan yang aku inginkan sebab hanya itu yang kutahu bukan karena gemar atau semacamnya. Takdir, kembali membawaku pada jurusan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. 

    Awal memilih jurusan ini juga karena jurusan ini yang pertama kali terbaca dan kebetulan aku memang gemar dengan pelajaran bahasa Indonesia. Bahkan, aku tidak tahu jika jurusanku ini memang melatih untuk menjadi seorang pendidik (khususnya). Hari demi hari aku jalani, dan tentu dengan penuh rasa minat dan niat. Sebenarnya, aku merasa tidak nyaman kalau aku bilang "iseng" memilih jurusan ini. Hanya saja, memang itu kenyataannya. Kata "iseng" yang membuatku merasa bersalah pada orang lain di luar sana yang mungkin menginginkan jurusan ini tapi tertolak. 

    Hidup itu fair enough dan yang harus kulakukan adalah menjalaninya. Banyak juga orang yang berkata salah jurusan. Berdasarkan informasi dari Educational Psychologist asal Integrity Development Flexibility (IDF), Irene Guntur menyebutkan bahwa sebesar 87 persen mahasiswa pada Indonesia galat jurusan. Tidak sedikit pula yang memilih keluar dan menggapai jurusan yang diinginkan. Aku tidak masalah, toh itu terserah pada mereka. Aku sebagai orang dengan zero motivasi saat itu tidak berpikir pusing dan panjang. Justru aku berusaha fokus saja dan menikmati. 

    Inilah yang disebut, tersesat di jalan yang benar. Berawal dari kata "iseng" menjadi minat. Nilaiku yang cukup memuaskan membuatku terus termotivasi, membuatku tersadar bahwa alam bawah sadarku memang memiliki minat dalam dunia pendidikan maupun hal terkait lainnya. Hidupku yang awalnya itu-itu saja, berubah lebih berwarna. Siapa sangka, jika aku yang tidak memiliki niat berlebih kembali menempuh ilmu dengan jurusan yang sama? Bukankah itu tanda aku menikmatinya?

    Setiap orang memiliki kemampuan untuk menilai diri sendiri. Begitu juga denganku. Memang benar, aku mungkin 1 dari 10 orang yang beruntung menemukan hal yang kucari dengan kata "iseng" karena banyak di luar sana yang mungkin lebih merencanakan hidupnya sedekimian rupa hanya saja tidak dapat berjalan dengan sesuai keinginannya. Bisa jadi, rencanamu itu bukanlah yang terbaik atau dirimu sendiri belum cukup memenuhi standar tersebut. 
    
    Semua hal yang terjadi itu kembali lagi bagaimana cara diri menyikapi suatu kejadian. Cerita ini memang simple akan tetapi bermakna buat diriku sendiri. Aku saat ini tentu berkat banyaknya faktor eksternal yang mendukung, dan aku juga ingin memberikan apresiasi pada diri sendiri yang terus merubah sudut pandang dalam setiap kejadian. So, apakah kamu pernah tersesat di jalan yang benar?

Komentar

Postingan Populer