IBU
IBU
Lusiana Agustina
Tema Ibu sering kali aku jumpai. Entah melalui cerita pendek, novel, puisi, bahkan caption orang-orang pada media sosial. Terkadang aku bertanya-tanya, mengapa tema Ibu sering kali dijadikan topik utama suatu hal. Apapun itu. Jawabannya simple, karena tanpa adanya Ibu kita bahkan tidak dapat lahir di dunia ini. Namun, nyatanya tidak se-simple itu.
Ibu bagiku adalah panutan. Panutan seorang anak terhadap sosok Ibu. Entah itu, negatif maupun positif sebagai anak harus mampu memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Sebab, Ibu juga hanyalah manusia biasa yang melakukan kesalahan. Daripada menghakimi apa yang menurut kita tidak pantas dilakukan oleh Ibu terhadap anaknya, lebih baik kita dapat menyaring sendiri mana yang ingin dijadikan panutan, dan mana yang lebih baik dihindari.
Seorang anak pasti pernah merasakan rasa jengkel, kecewa, kepada Ibu. Tidak lain karena tindakan Ibu tidak sesuai dengan standar yang kita tetapkan secara diam-diam. Pada akhirnya menghakimi pola asuh atau cara didik karena apa yang terjadi pada kita secara negatif merupakan bagian dari kesalahannya. Jadi, tidak sedikit aku sering baca mengenai tulisan tentang Ibu. Bukan hanya soal kebaikan saja, bahkan ada yang menghakimi sikap Ibu karena tidak sesuai dengan yang diharapkannya.
Bagiku menjadi seorang Ibu tidaklah mudah. Banyak jasa yang dilakukan pada kita, jadi kesalahan satu saja tidak dapat menjadi tolak ukur untuk kita menghakimi mereka. Kembali lagi, mereka juga sama dengan kita yakni manusia biasa. Saat menulis ini, aku tau bahwa banyak sekali berita diluar sana mengenai Ibu secara negatif. Tidak dapat dihindari, karena berita tersebut memaparkan pada kita sebuah realita jika Ibu hanyalah manusia biasa yang akan berbuat kesalahan. Manusia biasa yang terkadang berbuat kesalahan dan berdampak bagi orang sekitar tidak lain, seorang anak.
Apabila kita menghakimi, membuat tulisan, membuat persepsi seorang Ibu secara negatif, kerap dikatakan sebagai anak durhaka dan anak yang membuka aib keluarga. Aib adalah malu, cela, noda, salah, atau keliru yang harus kita jaga sendiri. Apakah orang lain perlu tahu? Jawabannya tidak, terkecuali ada tindakan-tindakan yang memang membutuhkan bantuan.
Ibu. Tidak mudah menjadi Ibu. Ibu serasa dipaksa sebagai panutan bagi anak untuk selalu sempurna agar anak tidak salah jalan. Toh, anak selalu melihat kepada Ibu dan disanalah ia akan mulai belajar bahkan sampai mencontoh. Maka dari itu, anak disini tugasnya adalah menyerap dan memilah apa yang baik bagi diri sendiri.
"Ketika seorang wanita memutuskan untuk menikah, disanalah ia memutuskan untuk menjadi Ibu". Kalimat ini dilontarkan oleh salah satu kawan baikku ketika berdebat padaku mengenai sosok Ibu. Kalimat kawanku ini sampai sekarang masih membekas padaku. Menikah sebagai bentuk ibadah dan sudah menjadi kodrat seorang wanita untuk memberikan keturunan. Tapi, hal ini juga tergantung situasinya bagaimana cara pandang seseorang mengenai perihal hal ini. Sudah banyak orang yang memiliki cara pandang mereka mengenai pernikahan dan tidak mewajibkan seorang wanita untuk memberikan keturunan.
Dulu, aku pernah diceritakan oleh salah satu kawan baikku mengenai keluarganya. Ia bercerita dan berharap bahwa cerita ini dapat kutulis sedekimian rupa. Ia merupakan anak dari kedua orang tuanya. Jujur saja, Ia sulit untuk menuangkan apa yang dipikirkannya, bahkan sulit untuk bertindak mengenai apa yang ia ingin lakukan. Kesulitan ini terjadi karena belah kasih terhadap Ibunya, sehingga mau tidak mau ia harus memikirkan konsekuensi terhadap perilakunya. Dapat dikatakan tindakan ini menjadikannya sebagai pribadi positif dan mampu menghadapi permasalahan lainnya pada lingkungan sosial.
Namun, hatinya terasa sakit dan berat. Jadi, ia hanya dapat bercerita. Ketika ia merasa kesal pada Ayahnya yang disalahkan adalah Ibunya. Benar. Ibu akan disalahkan karena dirasa tidak dapat mendidik seorang anak dengan baik dan berani pada orang tua. Ketika ia merasa kesal pada seseorang saat berbelanja yang disalahkan adalah Ibunya, karena tidak dapat mengajarkan anaknya tata krama. Ketika ia memiliki nilai yang tidak memuaskan yang disalahkan adalah Ibunya, karena tidak dapat membimbing dan mengajari anaknya dengan maksimal.
Pada suatu hari, ia menjalani hari dengan murung. Ia terus berpikir bahwa tindaknnya akan mempengaruhi Ibunya. Apapun yang ia lakukan bahkan jika itu bukan salahnya, Ibunya yang akan kena batunya. Sejak hari itu, ia terus berpikir mengenai tindakkannya dan belajar apa arti kata "sabar". Pengalaman tersebut mengajarkannya arti kata sabar, belas kasih, dan peduli. Ia melakukannya semata-mata untuk Ibunya. Agar Ibunya bangga dan tidak merasakan cemooh orang-orang.
Ia menyadari betapa sulitnya menjadi seorang Ibu. Saat mengandungnya, melahirkannya, mendidiknya, tiada hari Ibu berhenti memberikan kasih padanya. Sehingga ia menyadari bahwa melalui Ibunya, ia bisa menjadi pribadi yang saat ini. Walaupun terkadang hatinya berat dan sakit akan perilaku seseorang pada Ibunya. Walaupun terkadang ia ingin berkata kasar. Tapi, perlahan ia ubah cara-cara tersebut dengan hal-hal positif. Senyuman lembut terlihat pada raut wajah Ibunya. Menandakan kebanggaan seorang Ibu pada anaknya.
Ceritanya menyentuh hatiku. Menyadarkanku betapa pentingnya peran Ibu. Aku selalu berpikir bahwa "mungkin" aku tidak bisa melakukan hal yang sama seperti dirinya. Akan tetapi, ia terus menyadarkanku bahwa hal-hal yang negatif tidak perlu dibalas secara negatif pula. Banyak cara lain untuk membalasnya secara positif dengan mengingat sosok Ibu. Mengingat sosok Ibu akan membawakan kedamaian dan berkah. Sama halnya, seperti kita terus mengingat sosok Tuhan disekitar kita. Mereka akan menjaga kita, selalu, dan setiap saat.
Komentar
Posting Komentar