YUK BISA YUK
YUK BISA YUK
Lusiana Agustina
Sering banget denger kalimat, "yuk bisa yuk". Bukan cuman sering denger, bahkan kalau lagi baca komen-komen orang dalam suatu kejadian, kalimat tersebut pasti ada. Akhirnya, aku jadi enek sendiri kalau kalimat itu terlontarkan. Jadinya, sensitif kalau dengar kalimat itu. Mungkin bukan salah kalimat itu, yang bikin kesel karena kejadian-nya. Terkadang, banyak kejadian yang membuat kita merasa down dan jadi serba sensitif. Dulu pun aku pernah ada suatu kejadian yang membuat diri sendiri sensitif. Rasanya sebel dan kesel sama seseorang yang menyebabkan kejadian itu, Eh, malah ngomong, "yuk bisa yuk". Disaat rasa sensi menumpuk yang disebabkan oleh pihak tersebut dan malah berbicara seakan-akan ingin melupakan masalah.
Berkat pengalaman ini, aku sering mikir, "apa aku yang terlalu sensitif jadinya?". Kalimat sederhana yang bermula diucapkan untuk memotivasi seseorang, menjadi boomerang tersendiri. Kalau kalian baca sosial media apapun itu, kalimat ini sering banget ada. Memang, tujuan awal kalimat, "yuk bisa yuk" adalah menyemati atau memotivasi seseorang dan memang kekinian sehingga ga jarang pihak tertentu mengucapkan hal tersebut. Boomerang ini membuat rasa jengkelku terus menumpuk. Tidak ada salahnya apabila kalimat kekinian ini dipergunakan entah kepada siapa. Bisa jadi, yang harus diperhatikan adalah keadaan atau kejadian itu. Apakah pantas disemangati dengan kalimat tersebut?
Jadi ga heran kalau kalimat, "yuk bisa yuk" ini bisa bikin orang kesal dan menjadi toxic positivity. Tidak sedikit pula orang yang menjadi kesal akan kalimat ini. Buktinya banyak sekali yang menyampaikan pendapatnya tersendiri. Bukan kalimatnya yang salah, hanya saja kapan dan kepada siapa kalimat itu ingin disampaikan yang menjadi masalah. Toh, tidak semua orang memiliki masalah yang hanya bisa dibantu dengan kalimat tersebut, justru terkadang ada kalanya membuat orang sebal. Contohnya dalam kasus aku sendiri yang pernah ngalamin.
Komentar
Posting Komentar