SAMPAI JUMPA MATAHARI
SAMPAI JUMPA MATAHARI
Lusiana Agustina
Kata "Sahabat" sering terucapkan saat menduduki bangku sekolah menengah pertama. Berawal dari tidak saling kenal menjadi kenal, lalu merasa nyaman, dan akhirnya menjuluki seseorang menjadi "sahabat dekat". Sahabat yang selalu ada dikeadaan senang maupun duka. Saat aku memasuki masa SMP, salah satu teman baruku bernama Amel. Amel merupakan salah satu sosok yang aku kagumi. Bagiku, dia cewe tercantik yang pernah aku temui sampai sekarang. Waktu jaman ospek SMP, tempat duduk kami berjauhan. Akan tetapi, sosok Amel pada waktu itu sulit untuk tidak dikagumi. Banyak sekali orang yang terkagum melihat sosoknya. Sosok perempuan cantik yang berpakaian merah putih dan rambut hitamnya yang panjang. Jarak antara tempat duduk kami yang berjauhan, membuatku tidak pernah berpikir untuk saling kenal, apalagi untuk saling sapa. Awalnya, aku kira begitu sampai pada waktu sholat di masjid sekolah, kita duduk bersebelahan. Disitulah, pertama kalinya kita berkenalan.
Masa sekolahku dulu dipenuhi dengan kenangan bersama Amel, sayangnya karena kita tidak sekelas selama 3 tahun membuat kita jarang berkomunikasi, kecuali waktu ekstrakulikuler biola atau istirahat jam sekolah. Selain itu, kita juga kerap main di luar sekolah seperti pergi ke mall (karena pada waktu itu, anak smp udah keren main ke mall). Bohong kalau aku bilang kita nggak pernah cekcok atau berantem. Justru awal kelas 1 SMP kita udah berantem selama setahun. Itu adalah berantem serius kita yang pertama dan terakhir. Apabila ditanya, karena apa? Yah, sewajarnya masalah anak SMP, kalau bukan karena cowo terus karena apa, lol. Semenjak itu, aku selalu buat janji ke diri sendiri untuk menempatkan prioritas teman daripada cowo.
Usia kita terpaut 1 tahun, jelas Amel lebih mudah dari aku karena dia lahir tahun 2000 sedangkan aku, tahun 1999. Walaupun begitu, dia lebih dewasa daripada aku. Salah satu hal yang aku kagumi dari sosok Amel adalah cara dia berpikir, sebelum mengambil tindakan pasti dia mikirin hal itu seribu kali, terkadang dia seperti orang dewasa daripada aku. Nggak jarang, aku minta saran ke dia. Toh, saran yang diberikan selalu masuk akal bagiku. Itulah kenapa Amel salah satu sahabat baikku. Kita sering kembaran tas, sepatu, gelang, cuman beda warna karena dia dominan penyuka warna tosca. Bahkan, kalau main sering banget pakai baju warna tosca.
Sayangnya, kegembiraan satu sekolah hanya berlangsung 3 tahun saja. Kita terpisah saat masuk SMA dan juga kuliah. Walaupun begitu, kita selalu menyempatkan diri untuk bermain. Biasanya waktu SMA, aku jemput dia naik taksi dengan tas penuh baju ganti (bukan buku). Dia akan keluar gerbang sekolah, dan kita akan pergi ke mall (karena kebiasaan main ke mall, jadi SMP-SMA seringnya kesana). Sampai mall, kita bakal ganti baju biar bisa lebih nyaman waktu jalan. Kenangan itu, sangat berarti bagiku karena keterbatasan waktu untuk bermain bersama, dengan kesibukkan masing-masing. Ternyata, hal itu berlanjut hingga kuliah, bahkan parahnya bukan beda nama sekolah, tapi sudah beda pulau. Makanya, kalau dia lagi liburan ke Semarang, pasti aku usahain untuk ketemu dan main.
Kalau mengingat kembali kenangan tentang Amel, tiada habisnya. Membuatku sadar, bahkan waktu kita bersama tidak sebanyak yang aku kira. Amel bagiku salah satu teman yang tidak bisa aku temukan pada orang lain. Setiap kali kita bermain, dia selalu membawa rasa nostalgia jaman SMP. Tidak pernah berubah dan selalu menjadi "anak baik" dimata setiap orang. Menerimaku apa adanya tanpa memandang berbagai masalah yang aku perbuat. Itulah kenapa dia selalu menjadi nomor satuku.
Jadi tidak heran, setiap temanku tahu siapa sosok Amel. Entah itu karena aku sering nyeritain tentang dia atau ngeliat statusku yang lagi main sama dia. "Ah, Lusi mainnya sama Amel terus", "Dikit-dikit Amel". Kalimat yang sering kudengar dari teman-temanku. Mau bagaimana pun, aku belum pernah ngerasain punya sahabat dekat kayak dia, jadi she is the only one for me.
Selama kita main bersama, nggak jarang kita bercanda mengenai masa depan. Mau itu tentang lanjut pendidikan S2 sampai dengan hari tua nanti seperti apa. Keinginan lanjut pendidikan kita memang sama dan sejalan. Dulu, kita sudah memutuskan untuk lanjut S2 di salah satu Universitas kota Jogja, "Nanti satu kos yah, kamarnya mau bareng atau pisah terserah, nanti naik sepeda aja pas kuliah, biar hemat dan back to nature" ujar kita sambil tertawa bersama. Bukan hanya itu, setiap kali mengobrolkan tentang pernikahan dia selalu bilang, "Lusi harus jadi bridesmai-ku lo", dan kujawab, "Gamau ah" (dengan nada bercanda). Banyak hal yang kita bicarakan, hal-hal kecil yang bisa dijadikan bahan perbincangan.
Tapi sekarang, kenangan itu hanya bisa tersimpan baik pada memori kepalaku. Rasanya nostalgia dan sedih mengingat hal itu semua. Terkadang, membuatku sadar bahwa setiap kalimat yang terucap tidak semuanya akan terkabulkan oleh Allah. Buktinya sekarang, aku melanjutkan kehidupan di dunia dan dia melanjutkan kehidupan di akhirat. Begitu jauh rasanya, terasa selalu dihalangi oleh batasan. Walaupun begitu, doa akan menyatukan kita. Itulah yang kupikirkan. Dulu, aku selalu berpikir betapa senangnya menghabiskan waktu hari tua ataupun selama hidupku dengan mengenal sosok Amel. Sosok sahabat yang selalu membuatku tersenyum bahagia. Bagiku, dia layaknya matahari, selalu bersinar terang. Terkadang terasa terlalu panas, tapi membawa sejuta manfaat. Sekarang matahari itu sudah terbenam selama-lamanya, tidak seperti sebelumnya yang akan terbit lagi. Kali ini dia benar-benar pergi tanpa mengucapkan, "selamat tinggal".
Saat kamu bilang, "tunggu aku sembuh ya." Tidak terpikirkan olehku bahwa hari ini akan datang, tidak pernah sekalipun. Karena sosok Amel yang kukenal tidak pernah pantang semangat dan memperlihatkan sisi lemahnya. Siapa sangka, realita tidak seindah yang kubayangkan. Mungkin, saat ini aku tidak akan pernah bisa melepaskanmu dengan ikhlas. Walaupun aku tahu, ini semua adalah takdir yang sudah ditentukan Allah. Walaupun aku tahu, Allah memilihmu karena ia memiliki kasih lebih pada raga dan jiwamu. Tapi, hati manusia tidak sesuci itu yang bisa tabah begitu saja. Tapi, aku akan belajar, seperti dirimu yang selalu belajar ikhlas pada setiap keadaan.
Ingat, dulu kita sama-sama tidak memiliki teman yang baik dan tulus, jadi kita sering mengingatkan diri, "Kamu satu-satunya teman deketku Lus, jadi gapapa" ucapmu dengan senyum tulusmu waktu itu. Kubalas kalimatmu dengan ucapan yang sama, "Sama mel, kamu juga jadi jangan sampai putus persahabatan kita". Senyuman pada hari itu benar-benar menyentuh hatiku sampai saat ini.
Maaf, aku tidak bisa ada diwaktu sulitmu kapanpun itu. Banyak yang kusesali, tapi mungkin sudah waktunya aku berkata,
Sampai jumpa, Matahariku.
Komentar
Posting Komentar