PEITA IN THE TOILET

PEITA IN THE TOILET 2015

Lusiana Agustina

    Setiap bulan aku selalu menargetkan untuk menonton satu film. Alasannya sederhana, buat award time diakhir bulan. Bulan Maret ini, aku memutuskan menonton film yang berjudul, Peita in the Toilet atau dalam bahasa jepang Toire no pieta tahun 2015. Sebenarnya random aja milih film ini dan setelah menonton trailernya, emang menarik buat ditonton. Kalau kalian search sinopsisnya secara garis besar film ini menceritakan "tokoh utama bernama, Hiroshi adalah lulusan sekolah seni yang membuang mimpinya sebagai artis untuk bekerja sebagai pembersih jendela, saat ia menyadari hidupnya tinggal 3 bulan lagi, ia bertemu dengan murid bernama Mai dan sekali lagi menemukan mimpinya untuk menggambar." Aku masih nggak habis pikir kalau rating film ini tidak setinggi yang aku harapkan. Film dengan durasi 2 jam ini memenuhi ekspetasiku atau mungkin lebih dari itu. 

    Pemeran dalam film ini sangat menghayati dan membawakan perannya dengan baik sehingga aku sendiri yang nonton ikut terbawa ke dalam cerita. Alur cerita yang sederhana dan banyak nilai kehidupan yang dapat dipetik menjadi nilai plus. Tokoh utama yang memiliki bakat lebih dan menjadi bahan iri teman-temannya, dengan begitu saja membuang mimpinya dan bekerja sebagai pembersih jendela. Hidup yang mungkin bukan menjadi rencana utamanya harus ia jalani. Hiroshi pun tidak mengeluh dan cukup pendiam. Bahkan tidak terpikir olehnya untuk kembali menggambar. Suatu ketika, ia merasakan ada yang salah dalam tubuhnya dan memutuskan untuk periksa ke dokter. Disinilah klimaks cerita dimulai. Penyakitnya yang parah dan diagnosa umurnya hanya tersisa 3 bulan lagi membuatnya tidak percaya dan hampir terpikir untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Dikala itu juga ia bertemu murid yang bernama Mai di rumah sakit. Disitulah mereka sering berkeluh kesah bersama dan sosok Mai inilah yang akan menyadarkan Hiroshi. 

    Hal yang aku suka di film ini adalah bagaimana pengarang mampu membuat penonton penasaran. Tidak dijelaskan kenapa tokoh utama berhenti menggambar padahal menurut pandangan teman-temannya ia sangat berbakat. Awalnya kita saat menonton akan dibuat penasaran, seperti "Kenapa orang yang berbakat seperti itu memilih bekerja sebagai pembersih jendela?". Tapi, film ini difokuskan kembali ke tokoh utama yang memutuskan bagaimana menggunakan 3 bulan kehidupannya. Rasa haru ia rasakan saat kembali ke rumah orang tuanya di pedesaan. Ada scene dimana tokoh utama berdiri memandangi langit-langit di tengah-tengah pohon yang tinggi. Ia berdiri dan bergumam sebuah lagu, dan air mati tidak lagi ia tahan. Alasan ia pergi ke rumah orang tuanya dalah memberi tahu mengenai kondisinya dan memutuskan untuk menghabiskan waktunya di rumah sakit kota (secara halus, memilih untuk sendiri). Orang tuanya hanya bisa terdiam dan membiarkan anaknya pergi. 

    Saat cerita terus berjalan, penonton dibuat lupa akan rasa penasaran tadi dan memiliki pemikiran bahwa apapun alasan tokoh utama tidak menggambar lagi sudah tidak penting. Itulah yang aku rasakan, tidak penting untuk mengetahuinya. Kenapa judulnya, Peita in the toilet? Kalian akan tahu jawabannya saat akhir cerita. Aku menonton film ini saat malam hari, dan setelah selesai menonton aku juga tidak dapat menahan air mataku. Cerita yang sederhana tapi memiliki makna. Film ini aku rekomendasiin buat kalian yang mungkin sedang mencari, makna kehidupan. 

-

btw, scene tokoh wanita dalam film ini benar-benar memberikan sentuhan diakhir cerita. Disini kita akan merasakan bagaimana jadinya jika orang yang kita kenal dekat tiba-tiba saja menghilang. 


Komentar

Postingan Populer