MENYERAHKAN PRIVASI
MENYERAHKAN PRIVASI
Lusiana Agustina
Pagi hari rasanya sumpek banget. Bangun pukul 4.30 pagi, sholat, dan melalukan aktivitas, sudah menjadi rutinitas. Kalian pasti tau banyaknya video pada media sosial yang memperlihatkan seorang anak yang ingin berusaha mandiri membersihkan kamarnya tapi tetap diteriaki orang tua untuk membersihkan, disitu juga diperlihatkan kalau si Anak merasa kesal dan tidak ingin melakukannya. Terkadang saat menonton video itu, aku jadi keinget diri sendiri. Ok, saatnya cerita. Semua teman dekatku pasti tau betapa strict-nya orang tua dan kakak pertamaku. Jujur, pagi ini aku kesel banget karena yang biasanya aku pasang alarm pukul 4.30 am, tapi dibangunin pukul 4.00 am. Pintu aku yang dibuka lebar, diteriakin, dan mengingat umur aku udah 22 tahun. Aku berdesis kesal, dan mikir buat apa dia ngelakuin itu padahal orang tua aku aja udah tau aku bisa bangun sendiri. Nggak semua orang bisa bangun sepagi itu, Toh aku tidak melewatkan sholat subuh. Ini yang jadi masalah, terkadang mereka itu nggak tau kesibukkan kita apa, abis mikir apa, capek karena apa, tapi seenaknya sendiri.
Udah basi soal privasi, dari dulu aku nggak pernah diberi privasi entah itu orang tua atau kakak. Aku inget banget waktu SD karena nggak boleh bawa handphone jadinya aku tinggal itu handphone dirumah. Saat pulang aku mulai diinterogasi mati-matian. Isi percakapan sama teman, gebetan, udah habis dibacain semua kayak dongeng-in tidur anak, dan disitu ada mamah aku. Walaupun nggak ada isi yang aneh, tapi pembahasan soal teman dan hal-hal sensitif yang menurutku privasi ga perlu diomongin gitu. Mungkin kalian mikir, kenapa ga aku lock aja itu hp? belum jamannya aku tau apa itu lock. Kejadian itu mulai bikin aku trauma, otomatis setelah chat-chatan pasti aku langsung delete. Bukan cuman itu aja, aku heran kenapa kakak pertamaku suka banget ngurusin hidup adiknya. Bukannya aku menjelekkan, hanya karena dia adalah pengganti orang tua aku bukan berarti privasi aku dirampas begitu aja. Kejadian serupa dan parahnya sampai aku SMA.
Setiap kali ada tugas kelompok aku harus diantar, ditungguin, kalau terlambat sedikit omelan mulai mencerca dan mungkin hal-hal yang nggak pernah orang tua lakukan ke aku dia lakukan. Aku bukan tipe anak yang bakal cerita ke orang tua kalau deket sama seseorang karena responnya yang buat aku tidak mau cerita lagi. Setiap kali diantar teman cowo kerumah pasti diceramahin abis-abisan dengan alasan tidak enak dilihat tetangga. Toh, apa yang aneh dengan itu? Selagi aku sebatas wajar dan nggak terlalu nempel ke cowo. Disatu sisi perilaku itu terhenti sejak orang tuaku pensiun dan bisa tinggal bersama. Otomatis jadwalku yang sebelumnya sama kakak, digantikan oleh papahku semisal antar jemput sekolah. Orang tua aku sama aja strict-nya. Aku dilarang main abis pulang sekolah, dilarang pulang malam (maksimal sore), tidak boleh ini dan itu. Bukannya menyalahkan mereka atas tindakan nggak bener aku sendiri. Percaya deh, mau aku mohon-mohon sambil sujud pun nggak bakal boleh aku main terkecuali dengan teman kepercayaan orang tuaku sendiri. Soal itu jujur aku sudah pasrah.
Percaya nggak percaya, aku baru dapatin kunci kamar waktu umur 21 tahun itu pun karena kejadian yang sangat-sangat tidak menyenangkan. Selama ini kamarku tidak pernah ada kuncinya alias diambil. Alasannya nanti pintu cepet rusak dan kalau kekunci bisa berabe. Aku merasa tertekan karena walaupun aku di kamar entah kenapa ada aja bayang-bayang orang bisa masuk seenaknya. Budaya mengetok pintu di rumah ini cuman berlaku sama kamar orang tua aku. Waktu siang hari, abangku masuk aja ke kamar karena mau ngambil sesuatu dengan keadaan yang bikin aku panik (ini nggak perlu diceritain). Pokoknya gara-gara kejadian itu kunci kamar akhirnya dikasihkan. Sebagai anak yang dari dulu selalu merasa hidupnya diatur dan tidak ada privasi aku cuman bisa memaklumi itu. Semua harus terlihat baik-baik aja kalau di depan orang tua udah jadi hal biasanya. Lagi-lagi anak sebagai bahan kebanggaan aja, kalau salah sedikit pasti akan dicap mengecewakan orang tua. Aku tidak pernah protes tentang apapun hal yang lainnya. Sekadar meminta privasi? Apa susahnya? Mungkin karena orang tua belum menaruh kepercayaan ke aku? Emang apa yang udah aku perbuat? Apa yang bisa dilakukan anak sekolah dasar perbuat, hanya karena chat-chatan sama teman dan cowo?
Masalahnya banyak orang yang menyudutkan anak yang tidak diberi privasi. "Orang tuanya kayak gitu, pasti karena kesalahan anaknya dulu, makanya ga percaya lagi? "Ya mungkin itu cara orang tua dan kakak peduli sama kamu?"Bosen banget dengerin hal yang kayak gitu. Dalam kasus aku sendiri, karena emang dari dasarnya keluarga aku tidak pernah menganut apa itu privasi. Aku selalu kecewa dengan kakak perempuanku yang melewati batasan diriku sendiri. Serasa semua harus berjalan seperti dirinya. Di dunia ini tidak akan ada orang yang sama dan bisa diperlakukan seperti itu. Huh, rasanya pun aku juga menyerah buat dapatin privasi atau hak aku sendiri. Setiap orang memiliki masalah hidupnya masing-masing. Bertambahnya usia, anak bakal dapat pengalaman hidup dan juga masalah seiring waktu. Tidak semua bisa diceritakan pada orang tua. Ada kalanya dia membutuhkan waktu untuk memiliki tempat berpikirnya sendiri. Apabila orang tua dapat memberikan privasi bagi Anda, menurut aku itu bisa membantu anak menjadi mandiri dan lebih bertanggung jawab. Memberikan privasi artinya memberikan kepercayaan. Toh, bukan berarti orang tua tidak mengawasi anak.
Budaya mengetuk pintu menurut aku adalah point pertama dengan membuat batasan kepada anak. Kita tidak tahu anak sedang apa, bisa jadi sedang tidur, belajar, berganti baju, hal-hal yang mungkin sensitif jika ada seseorang masuk seenaknya. Justru apabila anak tidak diberi privasi dia tidak akan percaya lagi dengan orang tua, merasa hidupnya terbebani, atau malah Acting Out. Di satu sisi, orang tua bisa jadi peduli dan menunjukkan kasih sayangnya, tapi jangan sampai menjadi toxic parents. Disaat aku sadar jika toxic parent bisa jadi nyata, jadi susah sekali untuk berkomunikasi dengan baik. Misalnya masalah privasi aku yang dirampas, saat aku membicarakan sama kedua orang tuaku mereka malah menyerang balik dan tidak ingin mengakui tindakan mereka. Kakak aku pun sama, dia udah berkeluarga tapi saat menginap kesini, seakan-akan hidup aku harus kayak dia. Padahal dia gatau kemarin aku ngapain, mikiranku apa, mentalku kayak apa? Mentang-mentang kuliah luring-daring jadi mikirnya aku santai. Itulah kenapa, tindakan mereka masih berbekas ke aku samapai sekarang.
Komentar
Posting Komentar