GOODBYE 2021

 GOODBYE 2021

Lusiana Agustina

Heran ga sih kalau kita saat ini tinggal menunggu beberapa jam untuk menjumpa tahun 2022. Jujur, aku ga excited banget menyambut awal tahun, karena sedihnya covid masih melanda di negara tercinta ini. So, aku disini nulis, ditemani oleh lampu belajar dengan suasana kamar yang adem-adem aja. Kembali ke awal tahun 2021 tepatnya bulan Januari adalah time dimana sudah ada pegangan proposal untuk menyelesaikan perkuliahan. Aku selalu bilang ngebut dalam arti mau ga mau tahun ini harus lulus dengan predikat cumlaude. Setidaknya kurang dari 4 tahun. Motivasi ini muncul karena kakak aku lulus kurang dari masa perkuliahan 4 tahun dan langsung kerja. 

Jadi, aku pasti juga bisa. Inget banget proposal aku selalu ditolak sampai 5 kali, entah karena pemilihan bahan analisanya yang kurang, bidang yang mau dianalisa belum sesuai, sampai dengan proposal aku kurang mendalami. Mikirnya sih proposal tipis aja, intinya aja, nanti kalo masuk bab baru deh "serius" tapi dosbing aku emang melatih kalau dari proposal udah serius aja, nanti masuk bab baru deh cuman revisi dan mendalami doang. 

Bimbingan aku full online, setidaknya karena aku tipe gesit jadi kalau semisal dosbing ngarahin bagian apa yang harus direvisi ga sampe seminggu udah aku kirim ulang, otomatis tatap online kita pun sering. Beratnya penulisan skripsi emang aku rasain banget. Berada di rumah seharian, belum juga kewajiban mengerjakan tugas rumah, pusing penulisan bab, harus bolak-balik perpus kampus, minjem buku, dan juga faktor lainnya terkadang bikin aku ngerasa lelah. Aku juga harus mengorbankan berbagai hal, seperti mengabaikan orang yang lagi deket-deketnya, ga bisa main ke luar, dan juga (menonton anime dan komiknya sih). 

Terkadang hal yang kita ikhlaskan itu akan membuahkan hasil, siapa sangka aku bisa mencapai goalsku. Mungkin kalian bisa baca diblogku "Akhirnya Lusi Lulus Kuliah". Disana aku juga sudah menceritakan bagaimana susahnya mencapai kelulusan S1. Setelah lulus rehat sebentar dengan self reward seperti bermain dengan teman, foto wisuda duluan, ngejar nonton dan baca komik, pokoknya rasa lega itu nyata adanya. Abis itu, aku ga tinggal diem, "udah lulus ya cari kerja" karena saat itu posisinya kelulusanku sudah agak telat buat pendaftaran S2. Rencananya emang mau lanjut S2 tapi mungkin Tuhan berkehendak lain. 

Dilema itu kandas setelah tahu aku sudah telat untuk mendaftar S2 (pada bulan tengah) dan juga PNS. Kendalanya adalah ijazahku yang belum keluar. Walaupun aku lulusnya bulan Juni, itu tetap saja telat dengan keluarnya Ijazah karena wisuda ga langsung abis lulus ujian skripsi dong. Hal yang aku inget banget waktu selesai sidang skripsi aku memutuskan untuk melaksanakan wisuda duluan. Dimana ortuku juga setuju untuk merayakan wisuda duluan biar nanti kedepannya aku bisa fokus cari kerja. Toga belum ada pun tidak masalah, aku memutuskan untuk mengambil tema songket khas Palembang walaupun diantara kita bertiga tidak ada satupun yang keturunan Palembang.

Singkat cerita karena dulu pernah tinggal disana, dan kota Palembang memiliki peninggalan tertentu bagi aku jadi aku emang cinta banget sama kota itu. Kebetulan mamah juga punya koleksi songket selama tinggal disana. Sayangnya jarang banget dipake kecuali acara kondangan. Warna juga cantik-cantik mulai dari warna gelap sampai dengan warna terang. Kebetulan biar mirip aku memutuskan mengambil tema warna merah - merah muda jadi biar agak senada sama orang tua. Kalau papah sih juga udah punya batiknya sekalian. Pemilihan songket sudah selesai sekarang tinggal kerudung dan atasannya. Aku sama mamah pergi ke toko kain di Semarang, disana aku yang memilih langsung kainnya dan setelah itu kita pergi ke salah satu butik yang juga kenalan mamah, hasil jahitan bajunya memang bagus.

Aku juga sudah memikirkan design bajunya yang bagus seperti apa dan sekalian design baju mamah biar senada. Tidak lama untuk baju itu selesai karena kita emang request dipercepat aja. Aku seneng banget ngeliat hasil bajunya yang sesuai ekspetasi dan dua hari kemudian foto wisuda duluan pun tiba. Hari itu hujan turun begitu lebat, membuat suasana hati menjadi tidak karuan. Untung saja, siang harinya sudah mulai panas. 

Sesi pemotretan tidak begitu lama, dan terlihat jelas apabila mas-masnya tukang fotonya bingung kenapa foto wisuda tapi aku ga pake toga? yups, itulah kenapa ku bilangnya "foto wisuda duluan" karena aku juga belum mendapatkan toga. dan aku juga ga begitu suka foto paket toga jadi it's okay aja. 

Selesai bersenang ria oleh hasil foto wisuda yang bagus ternyata ga bikin aku puas gitu aja. KERJA- NYARI KERJA terus menghantui pikiran. Emang bener sih sebenernya dimasa pandemi kayak gini atau generasi sekarang bukan cuman punya satu pemikiran nyari kerja, tapi buat lapangan pekerjaan. Salut sih buat temen-temen aku yang lebih milih ke pashionnya dengan usaha sendiri. Kalau aku mungkin karena belum menemukan pashion tersendiri jadi mencari pekerjaan adalah hal tepat pada kala itu. 

Aku bukan tipe yang memperlihatkan ke orang-orang betapa susahnya nyari kerja. Setiap ada loker pasti aku daftar, masuk tahap administrasi, interview nanti gagal- dan itu berulang kali. Rasa stres sebagai lulusan S1 dengan nilai cumlaude dan belum punya pekerjaan jauh menyedihkan dari ekspetasi. Orang tua aku support banget, disaat aku belum bisa menghasilkan uang sendiri mereka masih bersedia mengsubsidi kebutuhanku. Alhasil, duit bukan kendalanya hanya saja kemandirian atas tanggung jawab diri sendiri menjadi beban. 

Akhir Juli pun aku ditelpon dari nomor 147 untuk mengirim ulang berkas administrasi proses lamaran. Besar hati sudah karena baru kali ini ditelpon langsung. Selama proses itu aku mulai yang namanya tes dan juga interview. Tes kerja seperti biasanya dan juga ada dua kali interview. Akhirnya masa training dimulai. Awal Agustus sampai dengan September akhir adalah masa-masa berjuang dan karena belum fix bakalan keterima atau enggak aku memutuskan untuk tidak cerita ke siapa-siapa kecuali orang tuaku dan beberapa teman dekat. Training yang memakan waktu cukup lama, dan banyak faktor yang membuat beberapa rekan gugur membuat aku kecil hati sepanjang masa training. Selain itu, ditengah-tengah training wisudaku akhirnya tiba. Kebetulan banget, pada hari itu aku masuk agak siang jadi bisa ikutan wisuda. Rasanya wisuda online sangat senang tapi lebih bangga lagi buat orang-orang yang wisuda offline mewakili masing-masing fakultas. Tapi, setelah wisuda itu selesai pikiranku tetap saja ke trainingku saat itu. 

Kegigihan adalah kunci. Pada ruangan yang cukup besar berjejer kami berenam (sisa training yang bertahan) duduk bersama. Lampu dipadamkan dan hati terasa terguncang mengatakan "kamu ga bakalan lulus Lus". Kini, aku sudah bekerja di salah satu perusahaan sebagai call center. Bulan Desember ini adalah bulan ketigaku bekerja. Banyak pro-kontra selama bekerja mengingatkan masa-masa sekolah dan kuliah. Ada perasaan ingin kabur sejenak tapi bagaimana dengan motivasiku untuk bisa tanggung jawab atas diriku sendiri?

Tahun ini mengajarkanku bahwa segalanya dapat terproses dengan baik apabila kita memiliki niat dan juga melakukannya. Rasa tidak puas justru datang setelah aku berhasil menggapai hal itu satu-persatu. Mulai tidak puas, ingin memiliki sesuatu secara cepat, dan sebagainya menjadi tantanganku saat bekerja. 

Kalo soal pribadi? aku selalu payah dalam menjalani hubungan. Pada akhirnya seseorang hanya akan singgah sebentar, mungkin karena aku juga yang tidak menyediakan tempat untuk bersinggah lama. Jadi males banget bahas hal kayak gini. Mending aku skip aja. 

Selain itu, aku juga senang dengan teman-temanku yang juga berhasil mencapai goalsnya masing-masing. Kita juga sering berjumpa membahas hal-hal yang sudah tidak asing kita bahas. Rasanya tahun ini memang membawa berkah yang lebih untuk kehidupanku. Mendapatkan teman kantor yang baik dan tulus, peduli satu sama lain, apa lagi yang bisa aku dapatkan? 

Setiap tahun yang datang dan pergi selalu mengajarkanku untuk terus berproses untuk menjadi pribadi yang lebih baik tapi terkadang manusia itu sering kali lupa untuk terus bersyukur jadinya perjalanan susah itu dilupakan sebegitu saja. Aku juga sering merasa pada titik saat ini aku belum mencapai apapun, bukan karena tidak bersyukur sih tapi karena goalsku mungkin lebih tinggi daripada yang sekarang. Rasa terima kasih selalu aku sampaikan pada orang-orang yang selalu mendukung, menasehati, dan membantu aku untuk terus berproses dan ga berhenti disitu-situ aja. 

Menuliskan ini semua hanya dengan refleksi malam ini membuat aku sadar bahwa rencana Tuhan itu begitu indah. Ada kalanya hal yang aku inginkan tidak terkabulkan tapi mendapatkan penggantinya, disaat itu Tuhan tidak memberikan kita hanya sekadar cobaan tapi memberikan pilihan terbaiknya. Apapun yang Tuhan berikan kita mendapatkan pengalaman, pembelajaran, proses diri, proses kehidupan, berevolusi dengan sendirinya. 

Tahun ini menjadi berkah tersendiri memandang diri yang setiap tahunnya bertambah usia. Siapa sangka yang kemarin masih kepala 1 sekarang menjadi kepala 2, bisa jadi nanti menuju kepala 3, disaat itulah aku selalu mengingatkan diri sendiri untuk tidak berhenti berproses dan dapat menentukan mana yang prioritas dan mana yang hanya sekadar keinginan. 

Sedih dan bahagia megucapkan salam perpisahan pada tahun 2021 dan juga menyambut tahun 2022. Selamat tinggal tahun 2021 dan selamat tahun baru untuk memulai tahun 2022. 

Komentar

Postingan Populer