BERJUANG
BERJUANG
Lusiana Agustina
Ga kerasa bulan Oktober tiba. Btw, bulan ini aku merasa jika mau ga mau harus mengikuti aliran yang sedang mengalir. Belakangan ini aku merasa apa yang aku lakukan sekarang belum mencapai point maksimalnya. Skala 1-10 aku masih ada di 2. Memasuki dunia kerja ga seindah yang aku pikir. Bukan berarti i'm not loving my job. Hanya saja aku selalu merasa tidak maksimal dalam melakukan sesuatu hal. Serasa ada yang kurang. Aku juga sedikit kecewa mengetahui fakta bahwa kegembiraanku bisa jadi boomerang bagi orang lain. Siapa sangka aku yang lebih awal mendapatkan berkah menjadi cacian bagi orang lain. Tapi, bisa apa? Aku pun juga mengejar waktu dan keinginanku sendiri.
Saat aku lulus sidang pada bulan Juli, hari santai dan bebas memang yang terbaik untuk dilakukan. Sebagai benefit prestasi dari apa yang selama ini aku perjuangkan walaupun kelulusanku tidak secepat yang aku harapkan awalnya. Setidaknya kurang dari 4 tahun itu sudah memberiku waktu sejenak untuk menghirup napas lega. 2 minggu berlalu aku jalani dengan santai, sembari bermain gawai dan mengucapkan selamat pada kawan yang sudah mendapatkan pekerjaan. Actually, my dream job is zero. Awal lulus kuliah aku ga pernah ada yang namanya "my dream job" lebih ngeliat ke realita aja. Dibilang hilang minat akan keinginan ingin menjadi sesuatu juga enggak sih. Hanya ingin mendapatkan uang secara mandiri adalah tujuan awal aku ingin bekerja.
Orang tua mana yang rela ngeliat anaknya di rumah ga ngapa-ngapain padahal udah dikuliahkan dengan susah payah. Well, selama aku ga berstatus bekerja orang tuaku cukup berbaik hati untuk terus memberi jatah perbulan. Katanya "kan belum kerja, jadi masih tanggung jawab orang tua". Jujur aja, kata-kata itu antara bikin males nyari kerja dan kepingin banget mau mandiri secepatnya. Untung aja aku memilih pemikiran yang kedua-
Akhirnya aku mulai apply berbagai pekerjaan yang sesuai dengan minat dan jurusan. Target awal memang menjadi seorang guru, tapi dunia layanan publik lah yang menjadi jalan tengahnya. Tempat aku bekerja sekarang ga segampang dan secepat itu buat masuk. Modal minat aja ga cukup menurutku. Sabar, teliti, ramah, dan juga tekad menjadi kunci untuk mendapatkan pekerjaan ini. Pada awal-awal masa training mungkin aku tidak sepesimis saat akhir masa training.
Rasa pesimis selalu datang pada hari-hari itu, tapi berkat kawan dan juga orang yang selalu menyemangati, aku pun merasa jika gaada salahnya buat menyelesaikan apa yang sudah kita mulai. And finally u know the result. Masa-masa itu sebagai gambaran saja diawal masa berjuanganku saat ini. Seperti yang aku bilang tadi dunia kerja yang selama ini aku bayangkan sama sekali berbeda dengan realita. Rasa lelah dan juga memaksimalkan pekerjaan itu ga segampang untuk dilawan. Point dimana aku juga kehilangan the things that's i love adalah hal-hal yang paling aku benci. Adakalanya aku ngerasa jika apa yang aku perjuangkan mungkin ga terlalu aku perjuangkan. Ga bisa main lagi, sulit banget buat menyediakan waktu untuk santai, atau sekadar menikmati hangatnya teh hijau. Jadi sering ga kumpul bareng temen sudah menjadi risiko- btw sekalian menghindari pertanyaan "kapan udah kerja" itu sih gapapa. Tapi hal-hal kecil yang biasa aku lakukan serasa hilang dan membuat rasa pesimisku mencapai puncaknya.
Sampai suatu ketika ada salah satu temanku yang mengunggah foto pada media sosial dengan caption yang benar-benar menjadikanku motivasi. "Lebih baik capek bekerja daripada capek mencari kerja". Membaca kalimat ini membuatku sadar kalau selama ini aku saja yang kurang bersyukur terhadap pemberian Tuhan. Tuhan sudah baik dan menunjukkan jalan yang tepat tapi aku malah meresahkan jalan tersebut tanpa mencoba untuk memaksimalkannya.
Aku secara pribadi pun sadar jika waktu terus berjalan dan kalau aku buat untuk merasa pesimis yang rugi adalah diriku sendiri. Daripada merasakan resah lebih baik mencoba untuk terus berkembang. Tidak ada kata terlambat dalam sesuatu hal yang kita lakukan. Mungkin kita belum sampai pada point tertinggi. Mungkin kita belum bisa menghilangkan rasa lelah. Mungkin kita belum mampu mengikuti orang yang berjalan jauh dari kita. Setidaknya ada dua pilihan, berjalan atau berlari. Karena mereka yang mendahului pasti dapat kita kejar apabila kita dapat berlari kencang.
Komentar
Posting Komentar