PANDUAN MENJELANG AJAL: SENECA
PANDUAN MENJELANG AJAL: SENECA
Lusiana Agustina
Sejak covid 19 melanda bumi ini angka kematian terus bertambah. Setiap hari, ketika kita menonton berita televisi atau sekadar membacanya pada gawai yang menjadi rutinitas saat pandemi, tanpa hentinya kita mendengar dan melihat fenomena ini. Bukan hanya itu, banyak sekali berita lainnya mengenai kematian. Entah itu dari kalangan papan atas sampai dengan keluarga yang kita cinta maupun orang terdekat. Saya percaya bahwa fenomena ini tak lain adalah kehendak Tuhan. Setiap orang yang bernyawa akan kembali pada sisi-Nya.
Setiap orang memiliki perannya masing-masing. Tanpa kita sadari, kita selalu bertumpu pada bagaimana cara hidup yang lebih baik. Apabila kita tekankan lagi, mengapa kita tidak bertumpu juga dengan bagaimana cara untuk mati yang lebih baik? Sama halnya pada salah satu buku yang saya baca berjudul, How To Die Sebuah Panduan Klasik Menjelang Ajal karya Seneca. Pada buku ini terdapat salah satu kutipan kesukaan saya yakni,
"Kita butuh seumur hidup mempelajari cara untuk hidup, dan-mungkin ini yang lebih membuat kita terkejut-kita juga butuh seumur hidup untuk mempelajari cara untuk mati," tulisanya dalam Ihwal Singkatnya Kehidupan (7.3).
Kutipan yang dimuat dalam buku ini merupakan cara Seneca agar kita bisa mempelajari kematian lebih cepat. kutipan itu dipilih dari delapan panduan yang mengandung bayang-bayang kematian paling sarat dan ditulis selama seperempat abad kehidupan Seneca (xxiii: 2020).
Saya sangat menyukai kutipan tersebut dan menyetujui apa adanya. Berkat kutipan tersebut saya jadi mengerti alasan kehidupan yang sebenarnya. Kita sering bertanya-tanya pada diri sendiri apa arti dari sebuah kehidupan? Pertanyaan itu sering datang apabila kita sedang sendirian di kamar, atau dilanda masalah. Kita mempertanyakannya, dan seakan sulit untuk menjawabnya. Bagaimana jika kita lebih melihat akan tujuannya. Saya yakin jika tujuan kita hidup di dunia hanyalah sebuah tes yang telah direncanakan oleh Tuhan untuk menuju kematian dan berakhir pada akhirat.
Maka, sangatlah logis bagaimana pendapat Seneca yang menyatakan anjuran mempelajari cara untuk mati. Terdengar sangat klise, akan tetapi memiliki dampak yang besar.
Dalam buku ini, Seneca juga kerap dianggap terobsesi dengan kematian. namun, Seneca mungkin akan menimpali, pembaca seperti itu terobsesi dengan kehidupan, membohongi diri mereka dengan penyangkalan terhadap pentingnya kematian. Mati, bagi Seneca, merupakan salah satu bagian dari hidup yang paling penting, dan satu-satunya bagian yang tidak bisa dipelajari atau diasah melalui pengulangan. Karena kita hanya akan mati satu kali, dan mungkin saja tanpa peringatan, penting sekali bagi kita untuk mempersiapkan diri jauh-jauh dan selalu siaga setiap saat (Seneca, xxii: 2020).
Seneca menyadarkan kita bahwa kematian akan terjadi kapan saja dan dimana saja, tidak ada yang tahu bahkan tidak ada peringatan karena itu semua sudah termasuk kehendak Tuhan. Tidak heran jika Seneca seakan menganjurkan kita untuk hidup lebih baik agar dapat mati dengan cara yang lebih baik pula. Bayangkan saja jika kita memiliki pemikiran bahwa hari ini ataupun hari esok ajal menjemput kita, tentu kita secara sadar hanya akan berbuat kebaikan, bersikap baik, hidup lebih baik, karena kita berjaga-jaga, waspada, jika mungkin saja detik ini kematian telah menunggu kita. Tentu dilihat dari aspek positif, dimana hati akan menjadi lebih tentram disertai waspada akan hal tersebut.
Komentar
Posting Komentar