IKAN ASIN DAN KUCING

IKAN ASIN DAN KUCING

Lusiana Agustina


Belakangan ini kasus mengenai kejahatan seksual seakan melanda disaat pandemi tiba. Entah apa yang terjadi pada derajat manusia sehingga dapat berbuat hal semacam itu. Saya sendiri merasa miris sekaligus bangga melihat para korban yang memberanikan diri untuk berbicara pada publik dan itu artinya berani untuk mengabaikan stigma lingkungan masyarakat. 

Banyak sekali kasus mengenai kejahatan seksual, dan rata-rata dari kasus tersebut perempuan-lah yang menjadi korban. Sekiranya saya sering menyuarakan mengenai eksistensi perempuan dimasyarakat sebagaimana jadinya. Perempuan pun berhak untuk bersuara atas hal-hal yang memang dirasa menyalahi keeksistensian perempuan itu sendiri. 

Salah satu kasus yang terjadi seperti gadis dibawah umur yang menjadi korban kekerasan seksual. Bukan hanya itu, gadis remaja sampai dengan lanjut usia pun menjadi salah satu korban. Sebagian masyarakat terlalu berfokus terhadap korban sebagai biang kerok kejadian tidak senonoh itu. Menyalahi derajat karena berpakaian terbuka, terlalu dekat dengan pelaku (pria), tidak dapat menjaga diri, sering keluar malam, sampai dengan dicap seperti ikan asin yang selalu mengundang kucing untuk disantap. 

Oh, bukan hanya pria diluar sana bahkan ada juga perempuan yang bukannya bersimpati malah menghujat korban sejadinya. "Perempuan kok gitu, pantas aja diperkosa." "Bajunya aja gitu, yaa ga heran." Sungguh menyedihkan. 

Banyak sekali tantangan yang menghampiri korban seakan-akan dialah yang menjadi tersangka, seperti proses pengecekan dengan pertanyaan menyudutkan korban, stigma perempuan dalam masyarakat, aib bagi keluarga, dan sebagainya? Hey, lalu bagaimana dengan pelaku? Apakah yang dilakukannya adalah hal wajar karena terpancing napsu oleh korban yang seorang perempuan?

Pelaku merasa jika tindakannya terjadi berkat korban yang seakan menggodanya. Kata "Khilaf" pun menjadi senjata ampun mereka. Bukan hanya mereka masyarakat pun juga akan berpikir sama setelah melihat bagaimana kehidupan korban. Sangat meresahkan disaat korban berjuang membeli eksistensinya sebagai perempuan, tapi malah mendapatkan berbagai hujatan yang seharusnya dilayangkan pada pelaku. 

Mari kita lihat, salah satu kasus yang mencengkamkan seperti yang terjadi pada SMA SPI di Batu. Kasus ini tampaknya memiliki kesamaan dengan kasus-kasus sekolah lainnya. Seorang pendidik atau guru yang seharusnya menjadi panutan dan membelajarkan peserta didiknya malah berbuat keji dan tidak senonoh. Apakah hanya ada satu korban? tentu saja tidak. 

Apakah peserta didik itu menggunakan pakaian tidak pantas? Tentu saja tidak. Apakah peserta didik itu mengoda pendidik untuk hal tertentu? Tentu saja tidak. Apakah peserta didik itu sering keluar malam? Tentu saja tidak. 

Stigma perempuan dimasyarakat yang menjadi eksistensi perempuan saat ini bukanlah alasan bagi pelaku untuk membela diri dan menghujat korban karena tidak mengikuti peran perempuan sebagaimana jadinya. 

Lalu, bagaimana dengan balita-balita yang tidak tahu apa-apa yang juga menjadi korban pelecehan seksual? Apa benar, pelaku melakukan hal itu karena balita tersebut menggodanya? Tentu saja tidak. Lalu, mengapa jika hal itu terjadi pada seorang gadis yang berumur belasan tahun keatas tidak menerima pembelaan yang sama? 

Pelaku melakukan hal tersebut bukan karena perempuan yang melanggar stigma masyarakat melainkan tidak dapat menahan nafsu diri sendiri dan memang sudah memiliki pemikiran keji yang tidak senonoh. Laki-laki tidak pernah diajarkan untuk mengontrol nafsu mereka sendiri seakan hal itu adalah wajar. Lelaki hanya memandang perempuan sebagai alat untuk memuaskan nafsunya. 

Sampai pada istilah jika "laki-laki itu disamakan oleh kucing" dan "ikan asin disamakan oleh perempuan". Apakah benar seperti itu? Tentu saja tidak. Pelaku tidak memiliki rasa iba dan bercermin atas perbuatannya. Korban yang terluka secara fisik dan mental, siapa yang bisa mempertanggung jawabkannya? 


Komentar

Postingan Populer