MENUMPUK BARANG
MENUMPUK BARANG
Lusiana Agustina
Sejak menjadi minimalis, saya mulai mengamati kebiasaan keluarga. Saat ini saya berumur 21 tahun dengan status mahasiswa dan masih tinggal satu atap dengan kedua orang tua dan dua kakak perempuan saya. Bisa dibilang saya belum bisa menghasilkan uang sendiri dan masih dibawah pertanggungjawaban orang tua. Apa yang saya lakukan, maupun barang yang saya miliki adalah hasil tabungan saya sendiri dari upah yang diberikan orang tua. Terkadang saya kerap diberikan fasilitas yang dibutuhkan. Lebih dari cukup dan saya bersyukur dapat menikmati hal itu.
Hal inilah yang membuat saya berpikir jika apa yang saya miliki saat ini bukanlah milik saya sepenuhnya. Barang yang selama ini saya beli dari uang tabungan saya, bukanlah uang dari hasil kerja keras sendiri melainkan sikap berhemat. Saya pun menyadari jika saya harus mengontrol diri dari barang-barang yang saya inginkan menjadi barang yang saya butuhkan. Itulah mengapa saya memutuskan menjadi minimalis.
Menjadi minimalis adalah langkah yang saya pilih. Dilihat dari sisi manapun saya hanya ingin melihat suatu barang dari segi kebutuhan bukan keinginan. Langkah itu pun berjalan dengan cepat karena saya sudah bisa menyesuaikan diri dengan pemikiran jika saya tidak ingin menghabiskan uang yang diberikan orang tua untuk hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Melalui pemikiran ini saya berhasil mewujudkannya dan bahkan tidak membeli barang tidak penting sejak menjadi minimalis.
Permasalahan utama yang saya hadapi belakangan ini adalah menumpuk barang. Keluarga saya memiliki kebiasaan menumpuk barang. Mulai dari kedua orangtua saya maupun kakak saya. Setelah saya sadari, kebiasaan ini muncul karena keluarga saya kerap berpindah tempat. Jadi selama proses perpindahan, keluarga saya cenderung menumpuk semua barang tanpa memilah. Selain itu, saya mencoba memahami kebiasaan sebagian keluarga yang suka menumpuk barang karena sebelum saya lahir ke dunia ini mereka hidup serba kekurangan. Jadi saya agak mengerti kenapa sulit bagi orangtua maupun kakak untuk menghilangkan kebiasaan tersebut.
Saya akan memberi contoh dari kebiasaan menumpuk barang.
- contoh pertama -
Suatu hari saya sedang membersihkan kamar. Saya melihat ada hiasan tempat pensil yang sudah kusam dan rusak sehingga tidak bisa lagi digunakan sebagai hiasan. Saya pun memutuskan untuk membuang barang itu ke tempat sampah. Tidak lama kemudian kakak perempuan saya sedang membuang sampah pada tempat sampah yang sama. Ia melihat hiasan itu dan mengambilnya. Saya yang menyadari hal itu pun berkata, "Itu punyaku sudah rusak. Kok diambil lagi?". Kakak saya seperti tidak setuju dan berkata, "Sayang kalau dibuang." dengan langkah pergi dengan membawa barang tersebut. Saya pun berpikir, "Buat apa lagi coba disimpan?".
- contoh kedua -
Pada hari Kamis saya memutuskan untuk mendonasikan barang-barang yang tidak saya butuhkan lagi dan masih layak pakai. Saya rapikan dalam satu kardus besar. Saya pun memberitahu Mamah saya jika ada beberapa barang yang ingin saya donasikan. Selagi memberitahu, saya juga menyanjurkan Mamah saya untuk melakukan donasi apabila ada barang yang tidak dibutuhkan. Mamah saya pun langsung setuju dan melihat ke dalam isi lemari pakaian. Kakak saya yang mengetahuinya juga berpikiran untuk melakuakan hal yang sama. Perasaan senang meliputi dan saya menyiapkan kardus untuk barang yang ingin didonasikan. Satu per satu barang muncul dan saya rapikan. Pada sela kegiatan tersebut baik Mamah dan Kakak saya saling melihat barang yang sudah saya susun dalam kardus. "Loh, kok ini mau dikasihkan? kan masih bisa dipakai buat dalaman. Suatu hari nanti bisa dipakai." Itulah yang Mamah saya katakan pada pakaian yang didonasikan kakak saya. Saya tahu bahwa baju itu tidak pernah ia gunakan. Saya berdiam diri, dan melihat pakaian itu diambil kembali.
Saya tidak bisa melakukan atau berkata apa-apa mengenai gaya hidup ini pada keluarga saya. Pendapat kami berbeda satu sama lain mengenai barang. Itu saja yang menjadi penghalangnya. Mungkin barang yang saya kira tidak penting, penting bagi mereka. Saya merasa tidak pantas mengelak perbedaan itu melihat kondisi saya yang belum mandiri sepenuhnya. Saat ini yang bisa saya lakukan adalah menjadi minimalis seorang diri berdasarkan tindakan yang saya perlihatnya. Betapa banyak waktu luang yang bisa saya isi dengan berbagai aktifitas tanpa harus memikirkan barang yang saya harus rawat dengan waktu ekstra.
Sudah saatnya kita membuang kebiasaan menumpuk barang yang tidak penting.
Komentar
Posting Komentar