SELAMAT TINGGAL BUKU

 

SELAMAT TINGGAL BUKU

Lusiana Agustina

Pada hari Selasa, 9 Maret 2021 saya memutuskan untuk menjual semua buku fiksi atau novel. Saya letakkan rapi buku-buku tersebut dalam satu kardus besar. Buku komik saya pisah sendiri dalam kardus kecil. Hari itu tepatnya pukul 13.00 WIB saya sudah berjanjian dengan pembeli buku saya yang memiliki kios jual beli buku di Stadion Semarang. Datang kesana bersama teman saya, karena saya cenderung sulit menentukan dan mengingat jalan. Terkadang saya menggunakan gps dari rumah ke rumah teman yang sering saya kunjungi. Setelah sampai disana, pemilik toko menghampiri saya dan mengangkat kedua kardus tersebut. Ia buka perlahan dan melihat kondisi buku tersebut. Lalu ia menawarkan harga pada saya, dan kami sepakat dengan harga yang sudah ditentukan. Saya menjualnya 225 ribu rupiah. Harga tersebut lebih tinggi dari harga yang ia tawarkan. Bahkan harga itu seharga lima buah buku saya di dalam kardus itu. Kemudian saya pulang dengan hati ringan.

Keputusan untuk mengucapkan selamat tinggal pada buku bukanlah hal yang mudah. Butuh 3 hari untuk memutuskannya. Berkat buku Goodbye, things karya Fumio Sasaki, saya mampu berpisah dengan baik pada koleksi buku tersebut. Awalnya saya heran kenapa Fumio Sasaki memutuskan menjual semua buku beserta raknya dengan harga yang murah. Ia hanya mendapatkan 20 ribu yen dari satu juga yen yang ia habiskan untuk membeli buku tersebut (h.8). Tapi ia juga menegaskan alasan ia menjual buku tersebut. Pertama, ia hanya membeli tanpa membaca dan sudah menjadi debu di kamarnya (akan tetapi ada juga buku yang ia baca). Kedua, ia mengkoleksi buku dengan pemikiran akan membacanya suatu hari nanti (rencana belaka). Ketiga, ingin mempertahankan citra diri akan kegemarannya terhadap buku. Setiap orang memiliki alasannya masing-masing. Saat pertama kali membacanya saya sangat menyayangkannya, mengingat saya disatu sisi sangat mencintai buku dan suka mengkoleksinya.

Tidak seperti Fumio Sasaki yang kerap “membeli tanpa membacanya” justru saya kebalikkannya. Saya sering kali melakukan pencarian tersendiri, “lebih baik menyimpan atau membuang buku?”. Aneh sekali. Saya seperti memaksakan diri mengikuti jejak minimalis Fumio Sasaki tanpa menjadi minimalis versi saya sendiri. Definisi minimalis bukan berapa barang yang Anda miliki atau sedikitnya barang yang Anda punya, melainkan barang pokok atau utama apa yang Anda butuhkan.

Seperti kebayakan orang yang mengubah jalur menjadi minimalis. Saya dulunya adalah seorang maksimalis.Saya kerap membeli barang hanya karena melihat barang tersebut menarik tanpa menggunakannya. Alhasil barang tersebut hanya menjadi beban dalam kamar saya.

Saat berhadapan dengan buku yang saya miliki. Saya merasa perlu mengkoleksinya. Saya juga menyukai logo Gramedia pada setiap buku tersebut. Belum lagi, sensasi yang saya dapatnya dalam memegang sebuah buku. Kembali mengingatkan saya pada saat membeli buku tersebut. Saya pun menyerah dan tidak berkeinginan menjual buku-buku tersebut.

Tanpa saya sadari, hari demi hari saya merasa terbebani. Box-box kamar saya terpenuhi oleh buku. Setiap sudut ruangan ada buku. Sekadar untuk enak dipandang. Tentu saja semua buku itu sudah saya baca. Lalu, saya menghindar dan membiarkan buku tersebut tetap di kamar.

Kemudian pada malam hari, Saya kembali mencari pencarian “barang apa saja yang perlu dibuang?” dan hasilnya saya mendapatkan informasi dari liputan6.com mengenai “11 barang di rumah yang harus tega dibuang biar tak jadi sampah”. Setelah membaca website tersebut, keesok harinya saya memutuskan untuk menjual semua buku saya.

Saya memberanikan diri bercerita kepada orang tua mengenai proses menjual buku ini. Awalnya Mamah saya seperti menyayangkan keputusan saya. Bahkan memiliki pemikiran seperti saya dulu, "kenapa tidak koleksi saja". Saya hanya terdiam, dan mengirimkan website tersebut pada grup keluarga sehingga Mamah saya bisa membacanya sendiri dan paham apa yang ingin saya sampaikan. Setelah berunding, Mamah mengizinkan saya untuk menjual buku yang sudah saya susun rapi. Perasaan lega dan senyum tipis menghiasi diri saya hari itu. 

Buku fiksi merupakan karya sastra yang dibuat untuk menghibur dan juga bermanfaat bagi pembaca. Novel bersifat cukup dibaca satu kali saja, berbeda dengan buku pelajaran. Hal inilah yang menjadi alasan kenapa saya memberanikan menjual semua novel. Saya sering membeli novel dan hal ini membuat dua box saya penuh dengan novel. Kamar pun terlihat sempit. Bayangkan saja novel itu hanya saya baca satu kali, setelah itu saya masukkan box atau meletakkanya sebagai hiasan semata. Pertanyaannya, “apakah saya membutuhkan buku-buku itu?” “apakah buku-buku tersebut adalah hal pokok saya dalam kehidupan?” jawabannya “TIDAK”. Saya tidak membutuhkan sebagai barang pokok kehidupan. Sekadar hiasan dan merasakan manfaat karya sastra tersendiri.

Setelah saya pilah dan menjualnya, tidak pernah saya mencoba menengok ke belakang. Saya juga tidak pernah mencari barang itu lagi. Ternyata saya sudah melakukan tindakan yang benar. Buktinya saya merasa tidak ada beban lagi. Kamar terasa lebih luas dari biasanya. 

Walaupun benar jika saya mencintai buku. saya juga senang apabila ada teman yang ke rumah saya memuji buku-buku yang saya miliki. Atau membahas buku yang saya miliki. Tapi, itu adalah alasan tersendiri untuk membiarkan buku-buku berada disana. Alhasil saya hanya ingin menjadi individu yang memiliki image menyukai buku dengan cara mengkoleksinya. Seperti halnya Fumio Sasaki yang ingin mempertahankan citra diri kepada orang lain. Tanpa sadar, saya pun melakukan hal serupa. Padahal saya juga tidak mengkatogerikan buku sekali baca itu sebagai barang utama.

Sulit dipercaya jika memang inilah kenyataannya dan sekarang saya merasakan kehidupan tanpa beban.

 

Komentar

Postingan Populer