SAITAMA ONE PUNCH MAN

 

 SAITAMA ONE PUNCH MAN

Lusiana Agustina

Tahun 2021 menjadi awal baru bagi kita semua. Ada yang buat list goals masing-masing, membuka lembaran baru, dan resolusi baru bagi setiap orang yang merasa pada tahun sebelumnya belum terwujudkan. Aku salah satunya. Resolusiku pada tahun ini bukanlah hal yang baru, masih sama seperti tahun sebelumnya, lebih melanjutkan.

Jujur aja nih, tahun kemarin emang bener-bener ga sesuai dugaan. Tiba-tiba aja kita dilanda oleh pandemik, dan semua hal terasa terbebani tidak mencapai target yang sudah  ditandai. Bagi orang yang sudah biasa dirumah “anak rumahan” pandemik seperti hal biasa yang aku lakukan sehari-hari.

Kembali lagi, aku merasa tahun kemarin menjadi waktu yang tepat bagi kita untuk melakukan refleksi diri. Banyaknya hal negatif dan ketakutan yang menjadi sebuah alasan untuk tidak berani mengambil sebuah risiko. Hal ini mengusikku. Rasanya benar-benar mengecewakan membaca berbagai banyak asumsi diri mengenai pandangan hidupku terhadap masyarakat dan dunia. Aku selalu merasa negatif akan suatu hal yang belum pasti dan jauh dari pandangan Tuhan tanpa memanusiakan manusia. Merasa benar sendiri, dan dunia adalah musuh. Padahal itu hanyalah alasan yang aku buat atas apa yang aku alami dan rasakan.

Kala itu, aku sadar kalau emang udah seharusnya pemikiran negatif itu harus aku ubah dan buang sejauh mungkin. Hal lucu dari cerita ini adalah dimana aku merasa bisa melepaskan pemikiran itu setelah mengenal lebih dalam karakter “Saitama” dari salah satu anime favoritku One Punch Man.

Sebelum menonton anime ini, aku sudah membaca manganya terlebih dahulu. Jadi, udah tau ceritanya. Jujur aku heran kenapa penulisnya bikin karakter utamanya ga ganteng-ganteng amat dan botak. Dari situ udah kesel bikin mikir, “Apaan sih ini”. Walaupun kesel, tetep aja aku lanjut membacanya berhubung ceritanya menarik. Ternyata setelah selesai membaca sambil menunggu chapter dan season 3-nya, aku sadar mungkin salah satu alasan penulis bikin karakternya terlihat tidak “keren” adalah untuk lebih memfokuskan pada sikap pada karakter utama.

Sikap si Saitama ini bener-bener jarang banget aku temuin di dunia nyata. Seakan-akan cuman hanya ada satu dari sepuluh orang. Betapa simple-nya cara dia memandang kehidupan membuat dia tidak tamak akan popularitas, ranking, uang, pujian, dan hal-hal yang menjadi perlombaan manusia. Cuman hanya satu yang dia pikirkan, melawan monster untuk menolong orang dengan alasan untuk kesenangan. Ya se-simple itu, walaupun disatu sisi banyak banget masalah yang terus berdatang, hanya saja karakter ini tidak pernah memikirkan sesuatu secara mendalam, ya sudah ya sudah. Simple adalah kuncinya.

Melihat dunia secara keselurahan, dari dalam dan luar. Apapun yang mengusik tetap membuatnya tenang dan mengambil keputusan secara perlahan. Terus menginspirasi dan merendah diri. Hal ini membuat manusia sadar jika, apa yang terjadi pada kehidupan kita hanyalah sebuah tes yang diturunkan oleh Tuhan kepada kita. Seakan-akan ingin melihat apa yang akan manusia lakukan untuk menjalankan tes tersebut. terus berjuang atau malah melarikan diri. Karakter Saitama dapat membuktikan jika sebenarnya apapun bisa kita lakukan apabila kita terus berjuang dan membuang segala macam emosi yang tidak seharusnya ada dipikiran manusia.

Sama seperti Genos & Siryui yang ingin menjadi murid Saitama, sama seperti pahlwan lainnya yang terinspirasi oleh Saitama. Aku pun juga berpikir bahwa,

“Saitama adalah guru terbaik untuk membuang emosi negatif dalam tubuh manusia.”

 

Komentar

Postingan Populer