COPYCAT, PLAGIAT, & INSPIRASI

 

COPYCAT, PLAGIAT, & INSPIRASI

Lusiana Agustina

Sosialisasi adalah usaha memasukkan nilai-nilai kebudayaan terhadap individu sehingga individu tersebut menjadi bagian masyarakat (Wikipedia). Well, manusia tentu tidak bisa hidup sendiri, karena derajat kita selalu membutuhkan orang lain (dalam makna tertentu). Hal ini berlaku pada sebuah pertemanan. Bermula dari teman saling sapa, teman biasa, teman belajar, sampai teman terpercaya.

Beberapa hari terakhir saya membaca mengenai “copycat”. Apa sih copycat itu? Berdasarkan sumber: Wikipedia, Copycat mengacu pada seseorang yang mengadopsi, meniru atau mengikuti hal yang sama seperti yang orang lain lakukan, contohnya anak kecil yang meniru tingkah laku tak sopan orang tua atau seseorang yang meniru apa yang di lakukan orang yang dia idolakan atau disukai. Copycat terlihat sama seperti plagiat, namun ada perbedaan besar, plagiat meniru sebagian, sedangkan copycat meniru keseluruhan.

Menurut saya, tindakan copycat sangatlah merugikan orang lain dan juga diri sendiri. Entah apapun alasannya, saya berasumsi jika orang yang melakukan tindakan ini bisa jadi belum menemukan apa arti “jadi diri” atau dirinya sendiri. Kurangnya rasa percaya diri, atau belum menemukan sesuatu keistimewaan pada diri sendiri. Adakalanya sebelum menulis blog ini, saya bertanya pada diri saya sendiri,

“Apakah saya juga pernah melakukannya?”

Pertanyaan tersebut bersifat refleksi diri atas tindakan kita. Copycat berbeda dengan plagiat, berbeda pula dengan inspirasi. Perbedaan ketiga hal ini memang sangat tipis. Bahkan pelaku juga tidak menyadari akan tindakan mereka. Berawal dari insipirasi, berubah menjadi plagiat atau bahkan copycat.

Tidak seperti copycat yang jarang saya dengar, kata “plagiat” justru akrab dengan saya. Saya teringat pada saat kelas 8 SMP. Pagi hari saya datang menuju kelas dan terkesimak melihat meja saya bertulisan “PLAGIAT” berukuran besar yang hampir menutupi meja coklat saya. Saya tidak habis pikir apa alasan orang itu melakukan tindakan tersebut. Akhirnya setelah saya tahu siapa yang menuliskan tulisan itu. Saya hanya bisa diam. Wajah dan sikap polos yang selalu ia tunjukkan sangat berbanding terbalik dengan tindakan yang ia lakukan. Tidak hanya itu, saya juga mengetahui alasan kenapa dia menyebut saya dengan plagiat. Karena, saya menyukai penyanyi yang sama dengannya. Benar-benar diluar dugaan, alasan sesederhana hanya karena persamaan preference menjadi seseorang mengambil tindakan tersebut. Saya tidak tahu harus berkata apa saat mendengar alasannya, sungguh tidak masuk akal. Alhasil, saya hanya menyinggungnya secara halus,

Kamu tau? Mejaku ada yang nulis plagiat gede banget, aku tau sih orangnya sapa. Tapi aku diem aja”.

Kata-kata plagiat dulu jauh lebih populer dibandingkan kata copycat saat ini. Bahkan, ada waktunya dimana seseorang berusaha menghindari barang yang sama. Pemikiran tidak dewasa itu terjadi saat saya duduk dibangku SMP. Contohnya, pada kasus saya itu. Menurut saya apa yang saya lakukan bukanlah tindakan plagiat, melainkan persamaan pada preference. Toh, kalian tidak bisa memaksakan apa yang saya sukai. Apa iya, menyukai penyanyi yang sama disebut plagiat? Apa iya, hanya Anda saja yang boleh menjadi fansnnya? Sangat tidak masuk akal.

Parahnya lagi, kami pada saat itu menjadi individu yang sering mengategorikan seseorang menjadi plagiat. Jika ada yang memakai sepatu sama, yakni sepatu sejuta umat (converse) dicap plagiat. Warna tas sama, plagiat. Lama-lama masuk ke kelas dengan kaki yang sama juga dicap plagiat. Bohong jika saya tidak pernah melakukan hal serupa. Sejak kejadian itu, saya menyadari jika tindakan kami memang sangat kekanak-kanakan. Bukan hanya itu, mungkin karena adanya perasaan tidak suka dengan seseorang yang membuat seorang individu merasa sensitif atas tindakan mereka.

Lalu apa hubungannya copycat, plagiat, dan insipirasi. Pembahasan ini bermula karena saya menyadari arti dari ketiga hal tersebut dan juga perbedaan yang mendasarinya. Pelaku copycat dan plagiat, bisa saja berawal dari alam bawah sadar mereka “terinsipirasi”. Mereka seperti wadah kosong yang membutuhkan isi dalam diri mereka tersebut dan tanpa mereka sadari mereka ingin menjadi seperti seseorang. Tindakan ini termasuk tindakan kejahatan yang merugikan orang lain maupun dirinya sendiri.

Pelaku copycat mencoba meniru keseluruhan dari korban, atau bahkan merasa dan mengakui apa tindakan korban tindakan dia. Sedangkan pelaku plagiat, hanya meniru sebagian dari korban. Berbeda kasusnya jika seseorang terinsipirasi. Contoh saja, saya ambil dari anime salah satu favorit saya Haikyuu, yang sudah tamat pada tahun 2020 ().

Misal tokoh A terinsipirasi dengan karakter Hinata. Tokoh A terinspirasi dengan kepribadian Hinata yang tidak pernah putus asa, terus berjuang, dan menggapai keinginannya. Tokoh A menyadari jika itu bisa menjadi sumber insipirasinya dalam kehidupan nyata. Alhasil tokoh A gemar belajar dan menggapai cita-citanya. Inilah yang disebut terinsipirasi, Walaupun cara berpikir mereka sama, hasil dan cara mereka tentu berbeda.

Lalu bagaimana dengan copycat. Copycat akan mencoba melakuakan seluruh tindakan target. Target memakai baju ini, menyukai warna ini, memiliki gaya ini, copycat tidak akan tanggung-tanggung untuk mengikutinya. Atau bahkan, cara berbicara target yang khas ia ikuti. Adakalanya copycat merasa jika itulah cara berbicara-nya yang asli. Sedangkan untuk plagiat, ia hanya sebatas meniru sebagian. Contoh, dalam pekerjaan skripsi yang sering kita dengar dan dicontohkan.

Dulu saya sering bertanya, kenapa kita selalu dikategorikan? Contohnya seperti kategori copycat, plagiat, dan terinsipirasi. Tentu menurut saya itu penting. Tidak aka ada orang yang terima jika jati dirinya diambil atau ditiru oleh orang lain, tidak akan orang yang terima jika idenya diambil oleh orang lain.

Komentar

Postingan Populer