PEMBICARAAN SENDIRI

 

PEMBICARAAN SENDIRI

Lusiana Agustina

Banyak sekali hal yang terjadi belakangan ini. Menandakan jika manusia sedang diuji kesabarannya oleh Tuhan. Lagi-lagi manusia mulai sibuk mencari kebenaran. Pertanyaan muncul tanpa adanya jawaban. Mungkin, aku salah satu dari sekelompok manusia itu. Semakin aku terseret oleh arus dan kejanggalan dunia, semakin-Ku menjauh dari fakta adanya akhirat. Dalam satu hari, aku yakin pikiranku terus terfokus pada dunia. Yah, dunia, bumi ini, tempat kita lahir dan menjalankan kehidupan. Banyaknya misteri yang masih menjadi teka-teki manusia. Kurasa Tuhan memang senang membuat rasa penasaran kita terus memuncak.

Tepatnya pada hari ini, aku menulis. Aku kembali pada titik awal. Masih mencari jawaban atas seribu pertanyaan yang kupunya. Anehnya aku tidak merasa ada yang bisa menjawabnya. Ada kalanya aku membohongi diriku sendiri. Mencegah rasa haus akan rasa penasaranku. Ku tutup rapat hidung dan mulutku, ku berpaling dan pada akhirnya rasa haus itu mencapai batasnya. Berbalik itulah yang kulakukan. Aku pernah mendengar, jika rasa penasaran yang berlebih itu tidaklah baik? Seringnya mendengar cerita-cerita orang yang kehilangan dirinya akan rasa penasaran, membuatku sadar mungkin kematian dapat ditemukan dimana saja dan kapan saja.

Bukan hanya mendengar, bahkan aku pernah melihatnya sendiri. Sungguh menyedihkan melihat dirinya yang hancur oleh rasa penasaran. Apakah benar itu yang kupikirkan? Kurasa tidak. Daripada menghukumnya secara sepihak, aku pun bertanya-tanya? “apakah rasa penasaranmu sudah terjawab?” tapi aku tak mampu mengutarkannya.

Manusia cenderung berjalan dan terus berjalan, ada yang lari sekencang angin, ada juga yang berbelok arah, ada pula yang duduk saja menatap hampa. Pertanyaannya adalah apa yang membuat manusia melakukan hal itu. Kurasa jawabannya adalah kehidupan. Jiwa emosi manusia yang sering berubah seiring berjalannya waktu. Aku menyadari jika manusia tidak seorang diri, kita berada di dunia ini bersama dengan yang lainnya. Hidup berdampingan. Setelah berputar dan terus berputar aku mulai bertanya akan jiwa manusia. Apa arti manusia?

Lahir di dunia dan kembali ke akhirat. Betapa beratnya. Sebagian orang terus mengejar dunia. Sebagian orang merasa jika akhirat yang bersifat abadi lebih baik untuk dikejar. Dan adapula yang menjalankan keduanya secara seimbang.

Waktu berlalu. Manusia yang berawal dari sehelai kertas bertambah menjadi lembaran kertas lainnya. Tentu dengan warna yang berbeda. Semakin gelap warna kertas itu, semakin besar emosi yang ia miliki. Apakah sudah derajatnya manusia memiliki emosi seperti itu. aku tiba-tiba teringat jika manusia hidup berdampingan. Sesuatu yang tidak dapat kita lihat. Sesuatu yang menjadi lawan dari manusia itu sendiri. Sesuatu yang membuat kita menghitamkan lembaran kertas itu. Sesuatu yang melahirkan emosi pada jiwa manusia.

Aku masih tidak mengerti akan keanehan dari pernyataan tersebut. Sesuatu itu yang melahirkan emosi dalam pikiran dan tubuh manusia. Kurasa ia sangat dekat dengan kita. Alangkah dekatnya kita mulai terbiasa, menjalankan kehidupan seakan ia tidak pernah ada. Terlalu egois untuk megungkapkan kebenaran. Manusia lebih egois dari yang kukira, kita meluapkan emosi yang entah apa sebabnya. Dan mereka tertawa akan rasa senang, merasa berhasil membuat kita meluapkan emosi tersebut. lalu, apakah emosi itu berasal dari mereka? Lalu bagaimana dengan jiwa manusia itu sendiri?

Komentar

Postingan Populer