PRO KONTRA SI AMBISI(US)
PRO KONTRA SI AMBISI(US)
Lusiana Agustina
Rasa lelah selalu datang pada saat yang
tidak tepat. Tetap saja, tidak ada yang bisa mengalahkan rasa lelah saat berhadapan
dengan realita. Misalnya saja hari ini, aku bukan hanya merasa lelah, akan tetapi
rasa takut, senang, pokoknya campur aduk kayak gado-gado. Melihat berbagai
fenomena maupun sosial yang ada, membuat rasa lelahku bertumpuk menjadi satu.
Lalu, aku mulai menanyakan pertanyaan pada diriku sendiri. “Apa yang sudah aku
lakukan sampai saat ini?” Terkadang itu yang aku pertanyakan. Iya,
pertanyaan yang membandingkan diri sendiri.
Berada di rumah, dan melihat kalender
kecil yang bertempatan di dekat meja belajar. Berbagai tanda lingkaran hitam,
merah, garis-garis, tulisan-tulisan kecil, membuatku sadar jika sebenarnya aku “enggak
gini-gini aja!”. Belum lagi, buku to do list yang hampir habis kertasnya. Tulisan penanda
tanggal, date line, garis tebal merah, huruf kapital. Selama ini, aku
tidak diam aja. Aku berusaha untuk pencapaian. Inilah yang sering aku lupakan,
disaat diriku mulai membandingkan diri dengan orang lain, aku lupa jika
sebenarnya pencapaian setiap orang tentu berbeda.
Misalnya saja seperti hari ini, aku bangun
pukul 4 pagi untuk melaksanakan ibadah dan jadwal keseharian aktivitas rumah
(karena, di rumah gaada yang mamanya “asisten rumah tangga”). Selesai, pukul 6
pagi dengan keadaan sehabis mandi dan perut lapar. Aku berusaha sarapan, dan
memulai aktivitas pukul 7 tepat. Laptop, kalender pengingat, dan buku to do
list untuk memulai hari. Aktivitas terhenti pukul 12, dan menjalankan sisa
aktivitas rumah serta makan siang dengan waktu singkat. Jam menunjukan pukul
14.00 dan aku kembali melanjutkan aktivitas belajar sampai dengan 22.00 malam.
Tidur pukul 22.30 malam, karena 30 menit adalah waktu literasi.
Hal ini membuatku sadar, kalau waktu
istirahatku hanya ada disaat aktivitas rumah, makan pagi, siang, malam, dan
juga 30 menit sebelum tidur. Ini menjadi keseharianku belakangan ini. Bahkan,
pada satu hari terkadang aku memliki 3 jadwal webinar yang harus ku ikuti,
belum lagi tugas penunjang kuliah mengingat jika aku sudah berada diujung
semester. Semua ini aku jalani dengan giat, walau terkadang ada saatnya aku
mulai mengeluh. “kok kayak gini sih jadinya?” “yah, gabisa main dong.”
dan ocehan lainnya. Aku merasa hidup yang seperti ini, penuh rintangan dan juga
tujuan yang jelas. Aku tidak pernah merasa kalau apa yang aku lakukan adalah
hal yang sia-sia. Misalnya, menulis tulisan ini. Aku tidak pernah berpikiran jika
menulis blog akan membuang waktu. Tidak sama sekali. Bagiku, waktu adalah
segalanya.
Waktu itu berharga sama seperti harga hidup manusia.
Tidak tergantikan, kalian
tidak dapat kembali ke masa lalu ataupun sebaliknya.
Kalau bukan sekarang,
kapan lagi!.
Lalu, apa hubunganya dengan judul pada
blog ini “pro-kontra si ambisi(us)?”. Berdasarkan KBBI, ambisi memiliki arti “keinginan”
(Hasrat, nafsu) yang besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu hal.
Sedangkan ambisius memiliki arti berkeingin keras mencapai sesuatu (penuh
ambisi). Aku secara pribadi termasuk ke kategori ambisi atau ambisi-us.
Sebenarnya aku menyadari hal ini, saat seseorang membicarakanku dari belakang,
iya seperti itulah. Setidaknya sampai aku mendengarnya secara langsung. Tidak
masalah, aku mulai terbiasa. Aku merasa jika menjadi ambisi secara pribadi
tidaklah buruk. Iya pada saat itu aku melihat sikap ambisius dari sisinya
pro-nya saja. Sampai pada akhirnya aku merasakan kontra dari sikap ambisius.
Kejadian ini terjadi saat pengerjaan tugas
kuliah secara berkelompok. Singkat cerita, pada pembagian kelompok salah satu
mata kuliah. Kita dibebaskan untuk memilih anggota kelompok (sekitar 2 orang).
Disaat itu, aku sudah bersama anggota kelompokku itu. Okay, Deal! Setibanya di
rumah sekitar sore hari, ponselku berdering dan ada satu pesan masuk dari
anggota kelompokku. Ia berkata jujur dan terus terang. Ia berkata jika ia ingin
keluar dari kelompok dengan alasan jika ia tidak dapat bekerja cepat dan mengatakan
jika ia tidak serajin aku. Tanpa berkepanjangan, aku berkata “Iya, gapapa”.
Dari situ aku mulai melakukan refleksi diri. Jika sikap ambisius tidak boleh
sampai memengaruhi sebuah kelompok. Karena sikap ambisiku yang ingin
mengerjakan tugas sebelum date line (agar bisa santai dikemudian hari),
membuatku lupa jika tidak semuanya berpikiran sepertiku. Bisa saja, orang
tertentu memiliki kesibukkan masing-masing, ada kepentingan lainnya, dan aku
disatu sisi melupakaan keadaan anggota kelompok.
Kejadian ini menjadikan cermin kesadaran
tersendiri. Memiliki ambisi yang kuat boleh saja, akan tetapi jangan sampai
melupakan faktor eksternal yang lainnya, dan membuat seseorang merasa tidak
nyaman. Akan tetapi pro dan kontra itu jelas ada pada setiap faktor yang kita
lakukan, salah satunya saat kita memiliki ambisi. Bukan berarti jika aku
menghindari sikap ambisius justru sebaliknya. Aku berusaha ambisius secara
pribadi tanpa memengaruhi lingkungan sekitar. Dapat dilihat jika hal ini justru
menjadi sebuah tantangan tersendiri bagiku. Untuk kalian yang ambisius, lakukan
yang terbaik.
Salam, Si Ambisi(us).
Komentar
Posting Komentar