BEDA KONDISI, BEDA PEMIKIRAN

 

BEDA KONDISI, BEDA PEMIKIRAN

Lusiana Agustina

Perbedaan kondisi berpengaruh pula pada pemikiran seseorang. Beberapa hari lalu, saya teringat oleh kata-kata yang pernah dilontarkan oleh salah satu teman kuliah saya. Saat itu, kami sedang berdebat mengenai anggaran suatu acara. Sebut saja, tokoh A dan B berdebat, dan saya memosisikan diri sebagai tokoh C. Tokoh A dan B merupakan mahasiswa aktif dan selalu mengikuti kegiatan acara kampus, jadi tidak heran jika mereka mengetahui segala macam urusan perhitungan anggaran. Menurut A, anggaran yang dikeluarkan untuk acara yang ingin diselenggarakan tersebut berbanding terbalik dengan realitas kualitas kegiatan. Sedangkan menurut B, sarana dan prasarana kegiatan itu memang sudah menjadi standar dan anggaran yang dikeluarkan susah sesuai. Jadi, tokoh B yang menjadi panitia kegiatan tersebut. Sedangkan tokoh A dan C bukanlah panitia tersebut. Hal yang menjadi menarik adalah tokoh A merasa jika anggaran tersebut terlalu mahal, dan tidak sesuai dengan kualitas kegiatan. Tokoh A dapat berbicara seperti itu karena, tokoh A juga merupakan mahasiswa aktif yang kerap menjadi panitia kegiatan.

Bisa dibilang disini saya adalah orang ketiga “C”. Saya sempat gusar mendengar perdebatan mereka mengenai anggaran yang terdengar masuk akal satu sama lainnya. Disatu sisi, saya merasa apa yang dikatakan tokoh A ada benarnya, jika anggaran yang dikeluarkan tidak cukup memenuhi ekspetasi orang banyak. Di sisi lain, saya tidak menyalahkan tokoh B karena dia sudah tau persis perhitungan acara, karena ia salah satu panitia. Pada akhirnya saya berpendapat saya, “Tidak ada yang salah dengan opini mereka masing-masing, hanya saja yang perlu kita garis bawahi adalah mencari sudut pandang lainnya. Berdasarkan sudut pandang lain, kita bisa melihat jika tokoh A ingin menyarakan jika di luar sana masih banyak biaya sewa sarana prasana atau lainnya yang lebih ekonomis sehingga anggaran yang dikeluarkan sesuai dengan kegiatan dan ekspetasi. Sedangkan tokoh B ingin menyampaikan jika sarana dan prasarana kegiatan acara itu memiliki biaya sewa yang cukup tinggi, sehingga anggaran yang dikeluarkan pun sudah sesuai apa adanya.” Pada akhir debat tersebut, tokoh A berkata,

“Beda Kondisi, Beda Pemikiran”.

Dan saya menyetujuinya. Kata-kata tersebut masih saya ingat hingga saat ini, dan menyadarkan saya jika perdebatan yang terjadi hari itu karena masalah kondisi seseorang. Kita lupa akan realita mengenai kondisi seseorang. Kita bisa menyatakan sebuah pendapat akan suatu hal, tapi tidak semua pendapat tersebut dapat diterima baik oleh masyarakat. Sama halnya dengan tulisan atau opini yang saya tulis, tidak sedikit dari pembaca blog saya mengirim pesan secara pribadi akan pendapat mereka pada tulisan saya.

Kejadian tersebut disebabkan oleh perbedaan pandangan. Saya kerap menanyakan kepada diri saya, “Apa yang salah dengan opini saya? Atau apa yang salah dengan tulisan saya?” saya sebagai individu selalu berpikir jika tulisan saya bersifat universal dan dapat diterima baik oleh lingkungan masyarakat. Tapi, nyatanya tidak seperti itu. Kenyataan seperti itu membawa saya kepada sudut pandang yang berbeda. Jika selama ini saya selalu melihat jika bumi itu datar, kini saya juga harus melihat jika bumi itu bulat. Perbedaan kondisi, membuat seseorang berpikir sebaliknya. Jika kita menyatakan A, dia akan menyatakan B. Mengapa hal itu terjadi? Karena perbedaan kondisi.

Kondisi seseorang akan memperngaruhi cara berpikir mereka. Sama seperti sebelumnya, itulah manusia. terkadang kita lupa jika 6+4 = 10, sama pula dengan 5+5 = 10. Hasilnya sama, akan tetapi dengan cara yang berbeda (Pemikiran: Will Smith). Adakalanya kita terlalu berpegang teguh dengan apa yang kita pikirkan, kita selalu merasa yang paling benar. Itu tidak ada salahnya, dan sebuah kewajaran. Tapi yang salah, jika kita tidak bisa menghargai dan mencoba memahami perbedaan tersebut,

Komentar

Postingan Populer