MESIN WAKTU

MESIN WAKTU

Lusiana Agustina

Jika kita dapat kembali dan bertemu dengan diri kita pada masa lalu, apa yang ingin kalian lakukan? apakah kalian ingin memberitahu mereka tentang apa yang terjadi dengan diri kalian saat ini? atau tersenyum kecil dan bersyukur dengan diri kalian pada waktu itu?.

Banyak hal yang ingin kita katakan,  tapi tak pernah tersampaikan. Banyak hal yang ingin kita lakukan, tapi tak pernah terwujudkan. Itulah roda kehidupan. Tapi kita melupakan satu hal, tidak ada kata terlambat untuk suatu perubahan.

Saya sudah cukup bosan dengan kata “penyesalan”. Penyesalan akan masa lalu, kemarin, ataupun hari ini. Kata penyesalan seakan menghantui kepala saya dan mengusik kehidupan saya.  Iya, saya bosan dan juga lelah dengan perasaan tersebut. Setelah berpikir dan menyesali setiap kesalahan yang saya lakukan. Saya menyadari jika itu sudah tidak ada artinya. Kita tidak bisa memutarbalikkan waktu, dan kita juga tidak bisa memperbaikinya, yang sudah lewat biarkan berlalu. Akan lebih baik, jika kita menyesali apa yang tidak pernah kita lakukan sebelumnya.

Hari ini, seperti biasa saya duduk dihadapan laptop dengan secangkir teh hijau hangat yang menghiasi aroma kamar saya. Mesin waktu, saya kembali mengingat diri saya sewaktu  dulu, tepatnya sebelum saya menginjak usia 20 tahun. Tidak sulit untuk menuliskan kesalahan apa saja yang telah saya lakukan. Mungkin, saya dapat menyebutkannya satu per satu. Tapi, sulit bagi saya untuk menuliskan tindakan yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya dan alasannya.

Ada kata penyesalan, tapi bukan untuk apa yang pernah saya lakukan. Justru sebaliknya. Saat ini saya mengingat kenangan saya sewaktu duduk di bangku sekolah. Ada beberapa penyesalan saya sewaktu itu. Contohnya saja, saya menyesal tidak pernah mengikuti lomba sekalipun, saya menyesal tidak mengikuti olahraga dengan tertib, saya menyesal tidak pernah belajar dengan sungguh-sungguh, dan sebagainya. Iya, rasanya menyedihkan. Penyesalan atas perbuatan yang tidak pernah saya lakukan, lebih menyakitkan daripada penyesalan atas perbuatan yang pernah saya lakukan.

Hanya ada satu kesempatan dalam kehidupan. Tidak semuanya bersifat abadi. Saya tahu, kalian juga berpikir demikian. Tapi diri kita saat ini, buta akan indahnya dunia. Sebagian dari kita mulai melupakan realitas kehidupan. Kita lupa asal mula kehidupan kita. Kita lupa jika suatu saat kita akan kembali menjadi tanah. Meskipun saya menuliskan hal ini, saya pun kerap melupakan hal itu. Buta dan lupa akan sesuatu yang disebut dengan hasrat, nafsu, dan ambisi. Manusia mulai mengabaikan hal itu dan kata penyesalan akan muncul dengan mudahnya. Semua orang pasti pernah merasakannya, yang membedakan satu orang dengan yang lainnya adalah bagaimana cara kita menyikapi dan mengartikan kata penyesalan tersebut.

Contohnya saja saya sendiri. Selama ini saya selalu menyesali kesalahan yang saya perbuat. Saya lupa jika manusia tidak pernah luput dari kesalahan. Bukankan memang begitu? Entah kenapa saya buta akan hal itu. Jika saya tidak menyadari persepsi saya akan kata menyesal, mungkin saya tidak bisa menuliskan hal ini.

Kembali lagi.

Kita juga harus tahu akan dasar-dasar kehidupan. Kenapa kamu hidup di dunia? Apa alasan kamu hidup di dunia? Pertanyaan seperti ini, apakah pernah kalian tanyakan pada diri kalian sendiri? Jika kalian tanya saya, saya akan menjawab tidak. Justru pertanyaan ini, saya dapatkan dari salah satu teman saya. Iya, ia menanyakan hal ini dan saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Sudah berapa tahun terlewat atas pertanyaan itu.

Pertanyaan yang tersusun dari beberapa kata, bahkan memiliki makna yang mendalam. Jika saya dapat kembali pada masa itu, mungkin saya akan melihat ekspresi suram itu. Betapa menyedihkannya orang itu. Bahkan ia tidak bisa menjawab pertanyaan seperti itu. Lalu apa yang telah saya lakukan saat itu? Apakah saat itu saya sedang dibutakan akan dunia? Apakah saat itu saya sedang asik menikmati gelapnya dunia? Apakah saat itu saya jauh dari kebenaran? Mungkin itu benar.

“Lalu bagaimana dengan kalian? Apakah kalian dapat menjawab pertanyaan itu?”

Seperti yang saya katakan sebelumnya. Kehidupan itu selalu berputar, tidak ada yang namanya abadi. Kita harus seimbang dalam menjalaninya. Dunia dan juga akhirat. Kita di dunia hidup sementara, sedangkan akhirat bersifat abadi. Intinya, kita hidup dunia sebagai salah satu bentuk tes persyaratan untuk menjalani kehidupan di akhirat.  Apa yang kita perbuat, apa yang kita katakan, apa yang kita rasakan saat ini, menjadi tolak ukur untuk tes tersebut. Hanya saja tidak seperti ujian pada umumnya, dimana kita diawasi secara terang-terangan. Sebenarnya tidak ada bedanya. Kita saat ini juga diawasi 24 jam. Hanya saja, sebagian dari diri kita melupakannya. Bukankah kebutaan yang kita miliki benar-benar menakutkan?.

Saya percaya akan Tuhan dan juga akhirat. Saya percaya akan hal itu, tapi tidak benar jika saya katakan, saya akan selalu mengingatnya. Adakalanya saya mulai melupakannya, dan ketika saya sadar, saya hanya dapat menyesalinya. Inilah yang ingin saya sampaikan. Kita tidak bisa berhenti karena kita menyesali hal tersebut, berulang kali. Sudah sewajarnya jika kita lupa dan dibutakan akan hal itu. Karena kita manusia, bukanlah Tuhan. Tapi yang membuat kewajaran itu sirna, disaat kita melakukan kesalahan itu berulang kali. Mungkin, itu terjadi karena kita benar-benar  sudah melupakan hal penting tersebut.

Maka penting untuk kita mengetahui dasar-dasar kehidupan. Pertanyaan yang harus kalian jawab berdasarkan hati nurani kalian. Tidak ada habisnya membicarakan mengenai hal itu. Semuanya kembali lagi pada diri kita sendiri. Apakah kalian akan berhenti, dan berjalan di jalan yang sama? atau, kalian ingin terus berlari untuk mencari arti dalam kehidupan? Jika kalian berhenti karena rasa penyesalan. Ubahlah rasa penyesalanmu atas tindakan yang tidak pernah kalian lakukan. Tentu tindakan yang bersifat positif, bukan sebaliknya.

-

Mungkin kita tidak perlu mesin waktu jika kita berhasil bangkit dari rasa penyesalan. Mungkin, kita akan bersyukur atas diri kita di masa lalu. Karena, kita yang saat ini ada berkat diri kita pada masa itu.


Komentar

Postingan Populer