MENULIS ITU

MENULIS ITU

Lusiana Agustina

Orang bilang, menulis itu dapat dilakukan oleh semua orang. Orang bilang, menulis itu hanya untuk orang yang tidak percaya diri berbicara publik. Orang bilang, menulis itu hanya untuk kesenjangan waktu. Orang bilang, menulis itu harus memikirkan pendapat pembaca. Orang bilang, menulis itu…

Perkataan manusia layaknya dedauanan bertaburan oleh kencangnya angin musim gugur. Mereka berterbangan sesuka hati, tanpa tahu kearah mana. Saya teringat tulisan pertama saya. Sebuah tulisan, catatan pribadi mengenai kegiatan sekolah saat saya duduk di bangku kelas 4 SD. Tulisan kekanak-kanakan anak kecil mengenai kehidupan sekolahnya.  Tanpa saya sadari, menulis adalah hobi yang selalu saya tutup-tutupi.

Setiap kali ada pertanyaan, “Hobi kamu apa?” saya akan menjawab, “Mendengarkan musik dan bermain musik.” Entah mengapa, saya seakan malu dengan hobi saya yang sebenarnya (menulis). Persepsi orang terhadap kegiatan menulis dan juga cara saya menganggapi persepsi itu terlalu berlebih, sehingga saya sendiri tidak dapat menikmati kegiatan tersebut.

Jika dapat saya katakan, saya mulai menikmati kegiatan menulis sejak memasuki dunia perkuliahan, dimana kegiatan menulis bukanlah sesuatu hal yang memalukan. Salah satu dosen saya sangat produktif dalam mengunggah tulisannya, bahkan tulisannya kerap terlihat pada media massa (koran) atau blog pribadinya. Hal itu membuat saya berpikir, “kenapa saya tidak?”.

Tahun 2017 saya memutuskan untuk mengunggah tulisan saya diblog. Banyaknya kendala akan arti menulis membuat sebagian diri saya mulai ragu. Menulis adalah kegiatan untuk menuangkan gagasan, pikiran pribadi (individu) seseorang, akan tetapi disisi lain menulis juga harus memerhatikan kemampuan dan kebutuhan pembaca.  Dua kutub berbeda yang saling berkesinambungan. Jadi, apa tujuan saya menulis? Apa yang ingin saya tulis? Bagaimana agar tulisan saya tersampaikan? Iya, pertanyaan seperti itu selalu datang setiap kali saya mulai menyentuhkan jari-jari saya diatas keyboard pada lembaran kosong putih (word).

Menulis itu tidaklah mudah. Ada berbagai cara untuk menuangkan gagasan kita. Kalian dapat menulis apa yang ingin kalian ungkapkan, tapi apakah itu hanya untuk kepuasan pribadi? Atau untuk menjadikan inspirasi bagi orang lain? Atau bahkan untuk mendapatkan keuntungan finansial semata? Ada beberapa alasan dibalik kegiatan menulis, entah apapun alasan kalian, menulis tetaplah menulis.

Bagi saya, menulis itu adalah salah satu jalan keluar dan juga peringatan pribadi yang ingin saya sampaikan pada orang diluar sana. Saya bukanlah orang yang dapat menuangkan pikiran secara leluasa. Menulis adalah jalan keluar dari permasalahan itu. Kehidupan manusia layaknya sebuah cerita-cerita fiksi yang sering kali saya baca, dan mungkin saya juga ingin menceritakan kehidupan saya secara leluasa. Jika saya katakan menulis sebagai jalan keluar, itu tidak ada salahnya.

Kenangan itu bersifat sementara, ada saatnya dimana kita bertambah usia dan mulai melupakannya. Seperti kita yang mengingat bagaimana rasanya menikmati indahnya pemandangan matahari tenggelam di sebuah pantai dengan angin kencang yang menyertainya, tapi itu bersifat sementara. Ingatan itu akan hilang seiring waktu, akan tetapi tidak dengan perasaan kita saat itu.

Menulis, seakan menjadi peringatan pribadi bagi saya. Banyaknya kenangan yang terjadi dalam kehidupan manusia, akan menjadi pelajaran bagi kita. Mau itu bersifat baik atau buruk. Dengan menulis menjadikan saya untuk mengingat kembali kenangan-kenangan itu tanpa terjebak di dalamnya. Kenangan baik, membuat saya ingin terus mengulanginya lagi dan lagi, atau mungkin lebih baik lagi. Sedangkan, kenangan buruk akan menjadi peringatan bagi kita untuk tidak mengulanginya.

Tulisan itu bersifat abadi, itulah yang sering saya dengar. Tanpa adanya tulisan tidak akan ada bukti sejarah. Tulisan, akan selalu ada, untuk saling memahami satu sama lain, memberikan inspirasi satu sama lain untuk berubah menjadi lebih baik.

 


Komentar

Postingan Populer