APAKAH LANGIT MASIH CERAH ?


Apakah langit masih cerah ?

Lusiana Agustina

Langit biru akan berubah saat senja datang, dan disusul dengan gelapnya malam. Langit tidak akan pernah sama seperti sebelumnya, semuanya akan berubah, satu-persatu, sama halnya dengan kita (manusia). Senang, sedih, bahagia, dan berbagai jenis emosi ini tumbuh dalam diri kita,menghakimi kehidupan kita sedikit demi sedikit. Hal yang dapat kita lakukan adalah bertahan sampai dimana kita memahami alasan betapa hidup itu tidak hanya indah untuk dijalani.

Lalu, bagaimana dengan orang yang menganggap jika hidupnya sudah tidak berarti lagi? bunuh diri, itulah yang sering kita dengar.

Tiap satu jam, setidaknya satu orang Indonesia bunuh diri. Demikian menurut catatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merujuk data mutakhir yang diperbaharui 1 Mei 2018. Angka ini menempatkan Indonesia pada posisi 103 dari 183 negara dan sembilan di ASEAN.

Lelaki lebih rentan bunuh diri, yakni 4,8 kasus bunuh diri per 100.000 penduduk di Indonesia setiap tahun, sementara di kalangan perempuan ditemukan 2 kasus per 100.000 penduduk. Merujuk analisis berita dari beragam kanal yang dilakukan tim jurnalis data Beritagar.id, terdapat 302 kasus sejak Januari hingga September 2019. Kasus bunuh diri paling tinggi pada bulan Januari dan Februari yakni 55 kasus.

Bunuh diri seakan menjadi hal wajar untuk dilakukan. Sungguh itu merupakan hal yang sulit saya cerna. Melihat seseorang melakukan tindakan itu membuat saya terus berpikir dalam kesedihan.

“Mengapa dia melakukan hal seperti itu?”

Saya tidak pernah menghakimi segala keputusan seseorang, jika itu adalah hal yang ia pilih secara matang. Kita sebagai manusia sosial hanya dapat bersedih dan menerimanya dengan penuh kesakitan mendalam. Seseorang yang tidak dapat merasakan apa arti kehidupan yang ia jalani, sama halnya dengan membunuh dirinya secara perlahan.

Tapi bukankah, ini menjadi salah satu tugas kita? Mencoba untuk memahami seseorang? Sama halnya dengan yang pernah saya bahas sebelumnya. Mungkin memang sulit untuk melakukannya, akan tetapi tidak ada salahnya untuk mencoba, atau sekadar mendengarkannya. Peran sekecil apapun akan berdampak besar dalam kehidupan seseorang.

Tentu, jika kita lihat secara garis besar tidak ada yang tahu mengapa seseorang melakukan tindakan tersebut, yang dapat kita ketahui hanyalah berdasarkan persepsi diri kita masing-masing dengan melihat realitas kehidupan seseorang.

“…Bagiku, hidup di dalam perasaan seperti ini merupakan sesuatu yang menyakitkan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Apakah tidak ada seseorang yang bersedia mencekik diriku sampai mati pada saat aku sedang tidur?”

Kutipan tersebut merupakan salah satu kutipan karya Ryunosuke Akutagawa. Tokoh penulis sastra asal Jepang, Ryunosuke Akutagawa mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Bunuh diri yang dapat dilihat melewati beberapa hasil karya sastranya. 

Melihat dan membaca sepenggal kalimat dalam karyanya membuat saya berpikir, jika dia seakan-akan memberi petanda bagi pembaca tentang apa yang dia pikirkan selama ini. Karya-karyanya seakan menggambarkan realitas dari kehidupannya sendiri. Tentu, dengan cara yang sulit untuk kita cerna sebelumnya.

Bunuh diri bukanlah hal yang dapat saya pahami sepenuhnya. Semua hal terjadi dengan apa yang tidak kita sadari. Belum tentu, apa yang kita lihat sama halnya dengan apa yang kita dengar. Semua berlalu dengan cepat, seakan terbawa oleh arus angin musim hujan. Sungguh dingin dan menyeramkan.

Sumber : Beritagar.id

Komentar

Postingan Populer