APA SALAHNYA UNTUK BERUBAH?


APA SALAHNYA UNTUK BERUBAH?

Lusiana Agustina

#WaktuBercerita

            Pada blog kali ini, aku akan menceritakan bagaimana caranya aku berubah. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya aku bercerita mengenai topik ini, bahkan pada blog sebelumnya aku juga membahasnya secara garis besar. Tentu bukan hanya itu saja, alasan utama dari tulisan ini akan aku bahas lagi pada #WaktuBercerita berikutnnya...

            Kembali lagi saat aku menjalani masa remaja. Masa remaja tentu menjadi hal menarik, karena ada banyak hal yang terjadi. Aku mulai mengenal sistem pertemanan, kalangan hedonisme, kenakalan remaja, dan sebagainya. Jika aku berkata aku telah mengalaminya, mungkin sebagian besar itu benar. Bagiku masa remaja adalah masa dimana kita mencari jati diri, dan mulai bermunculan rasa ingin tahu yang lebih besar.

            Disini, aku hanya menceritakan sebagian besar “masa remaja” yang aku jalani. Seperti yang kalian tahu, jika kita sudah berada di suatu jurang dalam periode lama, pasti kita akan mulai terbiasa dan sulit untuk melepaskannya bukan? itulah yang aku rasakan.

Merenungkan diri mungkin adalah hal yang tepat sebelum kita melakukan sebuah perubahan. Dalam kasusku, aku cukup lama berada pada tahap “merenungkan diri” ini, mungkin sekitar 1 tahun sejak kelulusan SMA dan sampai saat ini. Disaat kita merenungkan diri itu artinya kita mencoba memahami diri kita sendiri. Terutama kesalahan-kesalahan atau sikap pribadi yang perlu diperbaiki. Dimana saat itu aku mulai merasakan dan menyadari perbuatan-perbuatan yang seharusnya ga kulakukan, tapi malah dilakukan (manusiawi).

Cara yang paling sederhana, kita bisa menuliskan hal-hal yang perlu kita perbaiki, apapun itu dan lebih baik lagi jika kita menanyakan pada orang terdekat akan perihal sikap apa sih yang seharusnya tidak kita lakukan. Orang terdekat ini random aja, bisa mulai dari lingkungan keluarga, teman dekat, atau bahkan pasangan (kalo punya).

            Nah, disaat kita sudah melakukan tahap tersebut, pertanyaan yang muncul adalah, apakah ada hal-hal atau kejadian yang membuat aku menyesal? kalau ditanya apakah aku merasa menyesal saat proses itu? mungkin aku jawab tidak. Aku tipe orang yang selalu ingin jujur kepada diri sendiri. Seberapa besar buruknya perbuatanku di masa lalu tidaklah menjadi penghalang bagiku untuk berubah. Kata “menyesal” bagiku itu tidak ada gunanya, karena buat apa aku menyesali sesuatu yang tidak bisa aku ubah lagi? karena, seberapa besarnya penyesalan seseorang itu tidak akan pernah dapat mengubah apa yang terjadi pada masa lalu.

            Mungkin, sebagian besar orang akan merasakan arti “menyesal” itu. Boleh saja merasakan hal itu, tidak ada salahnya. Akan tetapi, jangan sampai kita terlalu larut dalam menyesalinya, ingat itu tidak akan pernah mengubah apa yang telah terjadi. Karena, manusia itu tidak akan selalu berjalan lurus, pasti ada saja yang belok ke kanan atau ke kiri, atau bahkan berbalik arah.

            Bagi aku pribadi, masa lalu itu adalah pelajaran berharga. Walaupun itu adalah nilai negatif, tentu ada hal yang dapat kita pelajari bukan? untuk tidak mengulanginya kembali. 

            Oke, sekarang kita mulai dengan topik yang pertama “cara aku berubah”. Hal pertama (1) yang aku sadari dalam proses perubahanku adalah, lingkungan. Lingkungan pertemanan merupakan salah satu kunci yang membuat cara pandangku untuk berubah menjadi lebih baik. Sejak aku memasuki dunia perkuliahan, tentu aku tidak berharap banyak hal. Lingkungan yang berbeda layaknya menamparku ke dalam realita kehidupan.

            Layaknya selembar kertas tisu kering, aku mulai mempelajari hal-hal positif dalam lingkungan baruku. Disitulah aku mulai merubah cara pandangku, “oh, jadi ini yang bener, dan itu salah.” contohnya saja seperti ini, dulu kalau aku mendengar atau melihat kenakalan “remaja” pasti aku cuman ngomong, “wajar sih, ga masalah. Kan udah gede”. Wow! salah satu komentar yang selalu bikin aku tertawa kalau mengingat hal itu. Tapi sekarang, aku mudah banget sensi untuk melihat atau mendengar hal-hal seperti itu.

            Tapi bukan berarti, aku menyalahkan bagaimana lingkungan pertamananku dulu. Tentu aku juga sadar diri mengenai semua kesalahan yang pernah aku lakukan. Jadi, ga adil aja kalau aku bilang lingkungan pertemanan itu yang merubah aku, mungkin lebih baik jika aku katakan, bahwa diri individu kita sendiri memiliki peran cukup besar dalam hal itu.

            Hal kedua (2) adalah melihat dunia secara berbeda. Selama ini aku selalu melihat dunia dengan cara yang sama dan berulang-ulang seakan tidak ada lagi yang dapat kulakukan. Ketika aku duduk dibangku kelas 12 SMA, salah satu guruku pernah berkata, “walaupun kamu mempunyai 100 bintang, tapi kamu memiliki titik merah, semua orang pasti akan melihat titik merah itu dan mengabaikan 100 bintang.” Apa yang ia bilang memang ada benarnya, karena begitulah manusia saling melihat. Kita akan melihat titik kelemahan seseorang terlebih dahulu. Sejak guruku berbicara seperti itu, aku selalu berpikir, “jadi percuma aja dong, orang berubah. Apa gunanya kalau gitu?.” Iya, pemikiran sentimental seorang anak berusia 17 tahun.

            Lambat laun, aku mulai tersadar jika apa yang dikatakan guruku itu ada salahnya dan ada juga benarnya. Hal yang salah dalam kalimat itu adalah, tidak semua orang melakukan hal itu. Sudut pandang orang pastinya berbeda-beda, dan mungkin benar jika ada saatnya kita melihat titik merah itu, tapi pasti ada saatnya pula kita lebih tertarik melihat 100 bintang bersinar itu. Aku mulai berpikir jika tujuan kita untuk berubah bukanlah berubah untuk orang lain melainkan diri sendiri. Jika aku berubah untuk mengubah ekspetasi orang lain terhadap diriku, lalu sama saja aku memasulkan perubahanku.

            Hal ketiga (3) yang terakhir adalah membaca. Oke, buku adalah jendela dunia bagiku, dan aku selalu merasa bodoh baru menyadari keindahan buku pada saat masuk kuliah. Itu artinya aku menyia-iakan 17 tahun hidupku tanpa buku. Aku mungkin lebih tertarik pada buku fiksi jika dibandingkan pada buku nonfiksi. Karena, bagiku buku fiksi itu dapat memainkan imajinasi secara liar, membuatku terjun dan merasakan isi bacaan tersebut. Mungkin salah satu buku fiksi kesukaanku sampai sekarang adalah “Brothers” karya Yu Hua (novel terjemahan) dan “Pengantin Pesanan” karya Mya Ye. Dua buku fiksi ini adalah jenis buku dengan genre yang berbeda dan tentu membuatku menjadi orang yang menilai segala sesuatu secara luas. Sedangkan untuk buku nonfiksi adalah “Semua Orang Bisa Hebat” karya Hillon I. Goa. Nah, percaya atau tidak ini adalah salah satu buku yang aku ambil dari lemari buku papahku. Buku-buku ini masihlah berbekas bagi aku secara pribadi.

            Tambahan nih, salah satu cara ampuh menurut aku adalah mendekatkan diri dengan Tuhan. Ini bisa dibilang kunci utama dalam perubahan diri yang lebih baik. Bukan berarti dulunya aku ga patuh dengan tuntutan agama, tapi jujur aja dulu aku ngerasa sama sekali ga deket dengan Tuhan. Sedih sih kalau mengingat kembali waktu-waktu itu. Dimana ada kesulitan, bukannya berdoa malah menyalahkan. Jadi, mendekatkan diri dengan Tuhan adalah hal utama dalam sebuah perubahan.

Itulah cara aku untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Proses untuk berubah itu tidak terjadi dalam satu atau dua hari saja, yakinlah itu proses yang sangat lama dan sulit sekali untuk dilakukan, dan tentu saja setiap harinya kita harus berubah untuk lebih baik. Tidak ada kata STOP untuk melakukan proses ini, karena kita harus tahu jika setiap harinya kita akan terus berubah untuk lebih baik. Rasanya itu seperti, melepaskan pakaian terbaik kalian begitu saja, karena pakaian itu tidak dapat kalian pakai lagi. Alasan aku berbagi cerita ini adalah aku yakin di luar sana pasti ada seribu orang bahkan lebih, yang mengalami hal yang sama. Adakalanya aku ngerasa kalau proses ini sulit, ga gampang. Butuh waktu yang cukup banyak, dan mungkin kehilangan sesuatu yang seharusnya memang lebih baik dilepaskan. Tapi, semua itu akan terbayarkan.

Sudah saatnya kita mulai berubah untuk menentukan jalan mana yang ingin kita tempuh nantinya. Jangan sampai kata “menyesal” tercetus dalam pikiran kita. Menurut aku, tidak pernah ada kata terlambat untuk berubah. Jadi apa salahnya untuk berubah? “masa bodoh” buat orang yang mencemooh kita akan perubahan yang kita lakukan. Ingat, kita berubah untuk diri sendiri, untuk Tuhan, bukan untuk memenuhi ekspetasi orang lain.

Komentar

Postingan Populer