SEORANG LUSI LULUS SBMPTN?
Seorang
Lusi Lulus SBMPTN ?
Lusiana Agustina
#WaktuBercerita
Tidak seperti tulisan yang saya tulis sebelumnya, kali
ini saya ingin menceritakan pengalaman saya saat mengikuti ujian SBMPTN tahun
2017. Kenapa saya ingin menceritakan pengalaman ujian saya? Alasannya sederhana. Karena, ada berbagai sisi cerita yang ingin saya ceritakan.
Saya mengikuti SBMPTN tahun 2017, tepat disaat saya
lulus SMA. Ada beberapa fakta yang perlu kalian ketahui. Saya sama sekali tidak
memiliki minat dan niat untuk mengikuti ujian SBMPTN. Tidak seperti kebanyakan
orang, yang akan berjuang sampai titik darah penghabisan. Saya sama sekali
tidak tertarik dengan ujian tersebut, karena saya sudah mendaftarkan diri di universitas swasta dengan jurusan yang saya inginkan.
Mungkin itu hanyalah alasan untuk menutupi kenyataan
jika, selain saya ingin berkumpul dengan teman-teman saya di universitas
tersebut, saya juga tidak ingin mengikuti ujian yang terlihat begitu berat seperti
UN. Itu adalah satu hal yang selalu saya hindari.Ujian!
Lucunya, saya juga menutup-nutupi tanggal pendaftaran
SBMPTN kepada orangtua saya. Setiap kali mereka bertanya, saya hanya menjawab, “Gatau kapan.”
Tapi, seberapa lama suatu hal ditutup-tutupi akan
keciuman juga baunya. Papah saya secara tegas menyuruh saya mengikuti test
SBMPTN, dengan berbagai alasan yang terdengar cukup masuk akal. Segala muslihat
saya lakukan agar saya terbebas dari tuntutan yang terdengar seperti paksaan
kedua orangtua saya. Mau tidak mau, saya harus melaksanakannya itulah arti dari
sebuah anak. Mematuhi perintah orangtuanya.
Jujur saja, saya merasa sedikit terpaksa dan tertekan.
Karena, saya tahu tentang diri saya sendiri melebihi orang lain. Seorang Lusi?
Ikut SBMPTN? Mana mungkin bisa lulus! Itulah yang saya pikirkan pada saat itu.
Pikiran-pikiran negatif seakan tidak ingin
meninggalkan saya sedetik pun, mereka terus berterbangan di atas kepala saya.
Pusing. Bagaimana bisa saya mengikuti ujian seperti itu? saya juga berkaca diri.
Nilai rapot saja tidak terlalu tinggi, berada di tengah-tengah, mungkin berkat
kebaikan seorang guru yang tidak rela memberi nilai seadannya kepada siswanya.
Lalu, nilai UN saya. Mungkin hanya ada angka-angka kecil yang bisa membuat kita
menyipitkan kedua mata dan mengerutkan kening secara bersamaan.
Saya tahu itu terjadi karena diri saya sendiri. Karena
dalam kamus hidup saya (dulu), kata “berusaha” dan “belajar” tidak pernah saya
lakukan. Jadi inilah kenyataan pahit yang harus saya terima.
Memikirkan hal itu membuat saya jauh dari kata ‘semangat’.
Pikiran itu terus melayang sampai pada tahap memilih universitas dan jurusan
(program studi). Pilihan pertama saya tertuju di Universitas Diponegoro jurusan
Komunikasi. Kedua, Universitas Negeri Semarang jurusan Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia, dan pilihan terakhir saya di Universitas Sebelas Maret
jurusan Ilmu Komunikasi. Lokasi ujian tertuliskan di sektor Undip Tembalang, fakultas
Teknik- Geologi/gd pertamina, ruang RA seminar.
Menjelang ujian, yang saya lakukan adalah berusaha
mengubah pemikiran saya terlebih dahulu. Ini berbeda dengan ujian-ujian
sebelumnya. Mau tidak mau saya harus menyerahkan segalanya dalam hal ini
(walaupun masih sedikit tidak niat). Berkat jurusan yang saya pilih, mata
pelajaran yang akan saya hadapi adalah Tkpa, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris,
Matematika dan Ips. Tentu saja. Jelas sekali. Dari mata pelajaran tersebut
saya sama sekali tidak memahami matematika dan ips. Karena, sebelumnya saya
jurusan ipa atau ipa-ipa an jika dapat saya katakan. Mau ips atau ipa saya juga
tidak memahami sepenuhnya.
Itu artinya, saya harus fokus dibeberapa hal yang
paling saya pahami. Tkpa, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Tiga mata
pelajaran itu, adalah kunci saya. Saya selalu mengajari diri sendiri untuk
mempelajari mata pelajaran yang saya pahami bukan sebaliknya. Mengingat waktu
ujian yang cukup dekat, tidak mungkin saya lebih fokus terhadap mata
pelajaran yang sama sekali tidak saya pahami.
Saya mulai belajar tiga mata pelajaran itu dengan
sungguh-sungguh. Mungkin, itu adalah pertama kalinya saya belajar dengan
semangat api 45. Entah mengapa semangat itu terjadi, yang jelas saya tidak tahu
pasti. Baru kali ini, saya merasakan apa arti dari kata belajar.
Hari ujian pun tiba. Selasa 16 mei 2017, pukul 10.00
ujian dimulai. Saya bangun pagi dan bersiap-siap untuk berangkat lebih awal.
Sudah pasti, jalanan akan macet pada hari itu. Saya diantar oleh kakak saya,
karena ia satu-satunya orang yang mengetahui persis lokasi ujian. Bagaimana tidak? Dia salah satu mahasiswi Undip.
Orang tua saya tidak ikut mengantar, karena permintaan saya sendiri. Sebelum kami berangkat, ada beberapa kata yang diucapkan orangtua saya. Selain kata semangat dan terus berdoa. Ayah saya berkata,
Orang tua saya tidak ikut mengantar, karena permintaan saya sendiri. Sebelum kami berangkat, ada beberapa kata yang diucapkan orangtua saya. Selain kata semangat dan terus berdoa. Ayah saya berkata,
“Apapun yang terjadi, jangan sampai ada jawaban yang
kosong. Bisa atau tidak, diisi semua. Sambil berdoa.”
Kata-kata yang Ayah saya lontarkan terasa seperti
hipnotis yang membuat saya mengingat kata-kata tersebut selama ujian
berlangsung. Saya mengacungkan jempol dan berpamitan dengan kedua orangtua
saya. Perjalanan dari rumah ke lokasi ujian cukup memakan waktu, sedikit ada
hambatan saat di perjalanan. Seperti yang saya duga. Mau sepagi apapun
berangkat, tetap macet, apalagi kalau berangkat siang?
Saya tiba di lokasi dengan mengenakan pakaian formal.
Kemeja putih, celana kain hitam dan sepatu hitam bertali. Saya rapikan rambut
dengan serapi mungkin. Ditangan saya terdapat kartu tanda peserta, fotokopi
ijazah, dan alat tulis. Disana, saya dapat melihat peserta ujian yang lainnya.
Ada yang berpakaian rapi, dan ada juga yang berpakaian seolah-olah ingin jalan-jalan
ke mall. Untung saja, saya mendengarkan nasihat kakak saya.
Kami duduk bersebelahan. Kakak saya sedang asik
mengerjakan tugas kuliahnya, dan saya duduk terdiam menunggu jam masuk ujian.
Mata saya mulai menerawang peserta yang lainnya. Mereka terlihat sibuk dengan
buku-buku tebal dan lembaran-lembaran kertas yang terlihat sering mereka baca.
Bahkan orang yang berpakaian heboh itu juga melakukannya.
Saya menundukan kepala, melihat diri saya sendiri. Hanya
saya yang tidak belajar, membuat mereka bingung melihat saya yang sama sekali
tidak membawa buku.
Tiga kali saya bolak-balik kamar mandi. Entah mengapa,
jantung saya berdebar begitu cepat, membuat saya sedikit frustasi. Tapi,
pikiran itu saya tebas secepat mungkin. Memang benar jika saya tidak seperti
mereka diluar sana, tapi saya memiliki apa yang tidak mereka miliki. Strategi!
Pukul 10.00 ujian dimulai, saya mendapatkan tempat
duduk paling belakang. Seperti yang saya duga, jarak tempat duduk sangat jauh
satu sama lainnya. Ada beberapa bangku yang kosong, itu artinya orang itu tidak
mengikuti ujian.
Ujian dimulai dan saya langsung melihat semua soal
secara keseluruhan. Mengerjakan Tkpa terlebih dahulu, lalu Bahasa Indonesia dan
terakhir Bahasa Inggris. Sampai pada 5 menit terakhir, saatnya silang indah. Saya
membaca soal matematika tentu saja, dan memilih jawabannya yang sekiranya
benar. Tidak ada coretan hitung-hitungan dari kertas, kecuali saat Tkpa. Lucu
rasanya menyadari dan mengingat kembali hal seperti itu.
Sudah waktunya jam istirahat dan ujian tahap dua
dimulai pukul 13.00. Masih ada beberapa jam, kami memutuskan untuk makan siang
yang tidak jauh dari lokasi ujian. Sialnya, kami terlalu asik
berbincang-bincang mengenai hal-hal yang tidak penting. Melupakan jika tadi
saya telah selesai berperang, kebetulan kakak saya terlihat tidak penasaran dengan
apa yang saya lalui. Anak SNMPTN memang beda.
Kami kembali tepat pada waktunya dan saya mulai
mengerjakan soal demi soal sama seperti yang saya lakukan tadi. Perang kedua
telah saya lewati dengan silangan penuh di seluruh kertas jawaban. Tidak ada
yang saya lewati berkat teringat kata-kata Ayah saya. Terasa ringan langkah dan
pikiran saya, meninggalkan lokasi ujian dan pulang menuju rumah. Sampai di rumah,
orangtua saya tidak menanyakan apapun sama seperti kakak saya tadi. Apa
mungkin, mereka tahu jika saya malas untuk menceritakannya?
Hari pengumuman telah tiba, ada rasa cemas membuat
saya berkeringat dingin. Tentu saja!. Saya membuka web pada siang
hari. Grup-grup chat terlihat sibuk menanyakan hasil satu sama
lainnya. Tidak penting bagi saya. Dan saat saya membukanya, mata saya melebar
dari biasanya, mulut saya tidak dapat berkata sepatah kata, dan mata saya
kembali bertemu dengan kakak saya yang duduk di sebelah saya. Tertulis,
“Selamat Anda
dinyatakan lulus seleksi SBMPTN 2017 di : Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia, Universitas Negeri Semarang.”
Dengan kecepatan penuh kami menyampiri orangtua saya,
dan terlihat jelas wajah bahagia mereka. Membuat saya sedikit berkaca-kaca, yang
membuat saya berkaca-kaca adalah untuk pertama kalinya saya membuahkan hasil
dengan hasil jernih payah saya sendiri, dan dapat membuktikan kepada orang lain
jika seorang Lusi juga dapat melakukannya, dan lebih penting lagi saya dapat
membuktikan kepada diri saya sendiri. Anehnya, saya tidak memikirkan
Universitas swasta saya sebelumnya, terlupakan sejenak. Mungkin, Tuhan mencoba
memberikan pilihan terbaik untuk saya.
Dari hal itu saya menyadari jika doa orangtua dan
sebuah kerja keras akan berbuah hasil. Jujur saja, banyak dari teman saya
seakan tidak percaya dengan apa yang saya katakan. Dan kata ‘beruntung’
menyebar kemana-mana, mungkin benar kata mereka jika saya adalah salah satu orang
beruntung karena lulus di seleksi ini, tapi itu tidak membuat saya kecil hati. Orang pintar kalah sama orang bejo? Apa
benar?. Akan tetapi, diantara mereka ada orang-orang yang merasa bangga dan
senang dengan jerih payah yang saya capai.
Komentar
Posting Komentar