PERMASALAHAN HIDUP MANUSIA
PERMASALAHAN HIDUP MANUSIA
Lusiana
Agustina
Manusia
diciptakan oleh Tuhan di dunia untuk saling hidup berdampingan,
bersosialisasi dan saling memahami satu sama lain. Akan tetapi, sulit bagi kita untuk saling memahami satu sama lain karena, kehidupan seseorang tidak pernah lepas dari sebuah masalah. Masalah yang muncul, entah itu intrapersonal, interpersonal ataupun konflik
sosial. Disini saya akan membahas mengenai sebuah permasalahan.
Berdasarkan
pengalaman sosial saya, saya dapat mengambil kesimpulan jika sedikit dari orang
dapat memahami permasalahan atau penderitaan yang dialami orang lain. Hal ini,
tidak lain karena mereka memiliki permasalahan yang sama atau tingkat
solidaritas yang tinggi terhadap sesama. Strees dan depresi, adalah dua hal
yang berbeda. Tidak sedikit dari banyaknya orang akan mengalami kedua hal
tersebut, dan membuat saya berpikir jika setiap orang memiliki permasalahan
yang berbeda.
Lalu,
apa yang dapat mereka lakukan untuk melampiaskannya? tentu saja, dengan bercerita.
Bercerita adalah hal pertama yang orang lain lakukan disaat permasalahan itu
muncul. Entah itu, kepada teman, keluarga, dan sebagainya. Mereka berpikir
dengan metode ini, mereka pastinya mengharapkan sebuah dukungan dan solusi atas
permasalahan mereka. Tentu saja, itu yang selalu diharapkan setiap orang.
Terkadang
hal itu membuat kita tidak sadar, jika semua orang memiliki sudut pandang yang
berbeda. Bagaikan sebuah gunung yang memiliki tingkat ketinggian yang berbeda.
Ada kalanya, kita malah menyudutkan orang tersebut, misalnya
“Kamu
itu seharusnya bersyukur, masih banyak orang di luar sana yang hidupnya lebih
susah daripada kamu.”
Benar,
kata-kata seperti inilah yang menjadi seseorang lebih tertekan. Disaat
seseorang berusaha mencurahkan isi hati dan pikirannya, disaat itulah kita harus
mencoba memahaminya, bukan malah menyudutkannya dengan fakta dan realita latar
belakang seseorang. Sebenarnya, banyak orang yang melihat latar belakang
seseorang, misalnya secara finansial. Secara otomatis, permikiran seperti itu
membuat kita lupa akan permasalahan utama seseorang, membuat kita tidak
merasakan rasa empati.
Saya
sedikit heran akan hal itu, karena saya pernah mengalaminya. Disaat saya,
mencoba terbuka dan menceritakan permasalahan yang saya miliki, ada kalanya
orang tersebut berpikir jika “masalahmu itu gaada apa-apanya dibanding
masalahku”, atau bahkan ia seperti tidak ingin mendengarkan, seolah-olah
masalah yang saya miliki tidak berarti apapun.
Saya
berada di lingkungan teman yang cukup beragam, jujur saja saya tidak dapat
mengharapkan hal yang ingin saya
dapatkan disaat saya mencoba terbuka terhadap mereka. Bukan berarti saya tidak
mempercayai mereka, hanya saja ada saatnya saya merasa, jika masalah saya hanya
menjadi beban untuk mereka. Saya bukanlah orang yang beruntung yang memiliki
seseorang yang dapat mendengarkan setiap permasalahan saya. Disaat saya tidak memiliki
teman, keluargalah salah satu rumah bagi saya. Tapi, hal ini justru membuat
saya lebih tertekan, karena sama dengan alasan yang sebelumnya. Saya takut
masalah saya hanya menjadi beban untuk orang yang saya anggap penting.
Disaat
inilah, kata ‘sendirian’ muncul dalam pikiran saya. Mungkin, beberapa dari kalian
merasakan hal yang sama. Seolah-olah kita hidup di dunia ini sendiri, menjalani
sandiwara kehidupan, dan berusaha keras bertahan dalam lingkungan sosial. Tidak
ada yang dapat membantu kita, kecuali diri kita sendiri.
Orang
yang memilih jalan terbuka dan menceritakan permasalahannya kepada seseorang,
itu artinya ia mempercayai orang tersebut lebih dari apapun. Pendapat, solusi,
semangat, dan teman untuk mendengarkan adalah kebutuhan yang ia harapkan. Tapi,
sedikit dari hal-hal itu yang dapat terlontarkan. Tidak dapat dipungkiri, kita
ini hanya manusia yang saling memiliki masalah. Membuat saya sadar, jika sulit
bagi kita untuk memahami perasaan orang lain sebelum kita merasakan hal yang
sama. Tapi, apakah sulit untuk sekadar mendengarkan saja? setidaknya jika kalian
tidak dapat memberikan apapun, cukup dengarkan saja, dan bukan menyudutkannya.
Karena, kita tidak pernah tahu apa yang orang lain pikirkan.
Tapi,
justru karena hal inilah yang membuat saya ingin melebarkan kedua telinga saya
lebih dari biasanya. Ada kalanya seseorang datang dan membutuhkan telinga untuk
didengarkan. Sebenarnya sudut pandang seseorang memang berbeda-beda dalam
menyikapi suatu hal, tapi itu bukan berarti kita dapat semena-mena menyudutkan
seseorang dan mengatakan jika masalah yang ia miliki “sepele”.
Berhenti!
Untuk memiliki persepsi jika masalah kalian lebih besar dan berat daripada
masalah orang lain. Langkah pertama yang dapat kita lakukan adalah mengubah
pemikiran kita terlebih dahulu mengenai sebuah permasalahan.
Tuhan,
itu adil, dan saya yakin setiap orang memiliki permasalahannya masing-masing di
dunia, akan tetapi dengan kondisi yang berbeda-beda. Jujur saja, dulunya saya adalah salah-satu
orang yang berpikiran seperti itu, berpikiran dangkal dan terus berkata jika
permasalahan saya lebih berat daripada orang lain. Saya mencoba untuk berubah,
karena saya sadar di dunia ini banyak sekali permasalahan yang muncul, membuat
mereka dan kita membutuhkan orang yang dapat mendengarkan. Jika kita tidak
mencoba saling memahami satu sama lain, lalu apa gunanya kita menjadi manusia?
Komentar
Posting Komentar