EGOIS
Egois
Lusiana
Agustina
Every Moment is Like a Flower Bud
By Jung Hyun Jong
Saat ini, aku menyesalinya
Every Moment is Like a Flower Bud
By Jung Hyun Jong
Saat ini, aku menyesalinya
Apa yang terjadi dahulu mungkin
adalah harta yang berharga
Seseorang di masa lalu, objek para
masa lalu
Mungkin adalah hartaku yang berharga
Aku seharusnya lebih dekat denganmu,
lebih sering bicara denganmu
Aku semestinya lebih mendengarkanmu,
lebih dalam mencintaimu
Aku bertanya-tanya apakah
melepaskanmu pergi karena lelah mendengarkanmu, seolah aku tengah kehilangan
pikiran
Aku seharusnya lebih menghargai masa
itu
Setiap momen bagaikan kuncup bunga
Kuncup bunga yang mekar, ketika aku
bersemangat.
-
Untuk sekian kalinya, aku terbangun
dari tidurku. Meninggalkan bunga tidur dengan air mata yang membasahi kedua
wajahku. Kini, mataku mulai melihat keatas langit atap kamar. Dan untuk
sekian kalinya, aku mencoba menutup kedua mata. Entah mengapa, aku tidak dapat
melakukannya. Mataku kembali melihat keatas langit atap kamar. Aku melihat,
cahaya rembulan malam mencoba memasuki celah jendela kamar, membuat
kamarku tidak terlalu gelap seperti biasanya. Suara sunyi akan bunyi jam
dinding kini telah sirna oleh rintik hujan yang sedikit demi sedikit mulai
terdengar nyaring.
Aku memutuskan untuk duduk diantara
kursi meja belajar dengan melihat kearah luar jendela kamar. Disana aku dapat
melihat bayangan wajahku yang menatapi rintik hujan yang mulai membasahi
jalanan rumah, dan membuat tanah-tanah berloncatan entah kemana, belum lagi
kilat yang muncul membuatku sedikit merasa resah akan tetapi juga tenang, suara
petir yang menggelegar membuatku tersenyum kecil. Percikan air hujan mulai
masuk ke celah-celah jendela kamar dan membuat jari-jariku sedikit basah.
Malam seperti ini sama dengan malam
sebelumnya, hanya saja ada yang berbeda. malam ini turun hujan. Tanpa kusadari,
hari demi hari kulewatkan begitu saja? tidak ada yang berubah, selalu sama. Bahkan, aku sudah tidak dapat menghitung berapa banyak malam yang terlewatkan
begitu saja. Hari demi hari terasa cepat, akan tetapi disaat malam tiba aku merasakan hal yang
sebaliknya. Pagi berganti siang, siang berganti sore, dan sore berganti malam.
Lalu, apa yang membuatku resah dan terbangun ditengah malam hari? Apa yang
membuatku mulai mengeluarkan air mata untuk sekian kalinya?
Jika dapat kupikirkan sekali lagi
mungkin karena sosok itu, karena hanya wajahnya yang muncul dalam pikiranku.
Gadis
itu.
Bagaimana
kabarnya?
Apakah
ia baik-baik saja? Beribu pertanyaan muncul dalam pikiranku tanpa satu pun
jawaban yang dapat kujawab.
Rerintikan hujan dan gelapnya malam
membuatku semakin resah. Dan kata egois menjadi salah satu kata yang selalu aku
pikirkan. Jika saja aku dapat kembali ke waktu itu? apakah semuanya akan
berubah?
Sebuah keheningan tanpa sebuah pertengkaran
atau bahkan tanpa mengucapkan kalimat “selamat tinggal”. Hanya sebuah
keheningan, gadis itu pergi entah kemana. Tidak ada yang tahu apa yang membuat
gadis itu pergi. Kecuali diriku sendiri. Dapat dikatakan akulah penyebab gadis
itu pergi. Tanpa ingin merasakan rasa sakit, tanpa ingin merasakan sebuah
penderitaan, tanpa ingin mendengarkan kata-kata kejam, aku selalu mendorong orang
pergi sebelum mereka meninggalkanku dengan semua perasaan itu. Mungkin itu
salah satu sebabnya, aku selalu sendiri. Tanpa ada satu perasaan tersisa. Tapi hal
itu tidak pernah membuatku resah, lebih tepatnya aku cukup bahagia dengan apa
yang kulakukan. Tapi, gadis itu berbeda.
Sebuah kisah, kenangan, canda tawa, rahasia
kecil, dan janji dimana kedua kelingking kami saling bersentuhan, semua itu masih
dapatku ingat dengan jelas. Terkadang aku bertanya-tanya apakah ia masih
mengingat semua hal itu? tapi tanpa perlu mempertanyakan hal itu, aku sudah tahu
jika ia melupakannya, menguburnya ke dalam jurang dan berjalan jauh
meninggalkannya. Atau yang ia hanya ingat adalah sikap egoisku? Apakah kata
“pertemanan” hanyalah sebuah kiasan? Aku tidak tahu.
Aku terlalu egois untuk menyadari
semua hal yang telah kulakukan. Tanpa bertanya terlebih dahulu, aku selalu melakukan
segala hal yang ingin kulakukan. Apa yang kuinginkan, adalah apa yang ia
inginkan, itulah yang selalu kupercaya. Tapi mengapa aku baru menyadarinya?
yang hanya kuingat adalah kenangan manis tanpa sedikit pun rasa resah di
dalamnya. Dimana kita berdua tertawa bersama, dimana kita tersenyum bersama.
Akan tetapi jika aku dapat mengingat lagi raut wajahnya, ia tidak pernah
tertawa melainkan resah, ia tidak pernah tersenyum melainkan menahan rasa
sakitnya.
Aku mulai memainkan jari telunjukku
kearah tetesan rintik hujan, dan mulai memikirkan hal itu berulang kalinya
tanpa celah. Aku mulai melihat kearah langit.
Begitu
gelap.
Tidak ada bintang maupun bulan yang
ikut menerangi. Semuanya tertutup oleh gelapnya malam. Tidak seperti hujan ini
yang akan reda disaat pagi akan datang, tidak seperti rintikan hujan yang akan
hilang, tidak seperti gelapnya malam yang akan berubah menjadi cerah, rasa
bersalahku tidak akan pernah hilang. Itulah yang kupercaya.
Tidak akan ada kata “maaf” dan tentu
saja aku tidak mengharapkannya. Jika aku
dapat bertemu lagi dengannya? Lalu apa yang akan aku katakan dan apa yang ingin
kusampaikan? Tapi, tidak ada yang ingin kukatakan padanya. Karena aku hanya
ingin ia pergi, melangkah tanpa harus menengok kearah belakang. Dan dari sudut
sana, aku dapat melihatnya tersenyum lebar.Membanyangkannya saja sudah cukup
membuatku tersenyum kecil, dan tanpa sadar air mata mulai membasahi kedua
pipiku. Tapi apakah itu cukup bagiku?
Itulah
aku.
Egois.
Tanpa
ingin mengetahui apa yang ia rasakan, tanpa ingin mengetahui apa yang ia
pikirkan, aku selalu memutuskannya sendiri seakan-akan itulah yang terbaik.
Aku
mulai membaringkan tubuhku diatas tempat tidur, seketika bunyi ponsel berbunyi.
“sudah
pagi..”
Komentar
Posting Komentar