NASIB DUNIA ADA DITANGAN KITA
NASIB DUNIA ADA
DITANGAN KITA
Lusiana Agustina
Sebelum merubah dunia, sebelum merubah orang lain,
ubahlah dirimu sendiri.
Kita sebagai makhluk sosial, hidup di dunia dengan
berbagai prinsip dan tujuan masing-masing. Kehidupan tidak selamanya berjalan
lurus, seperti kisah dongeng semata. Ada kalanya, realita jauh dari apa
yang telah kita rencanakan.
Tidak ada salahnya, jika kita melakukan suatu
kesalahan karena itu adalah hal yang wajar. Kita bukanlah Tuhan, atau makhluk
suci yang luput dari dosa. Kita adalah manusia, yang selalu membuat kesalahan. Apakah
kita harus malu akan kesalahan yang telah kita perbuat? Mengapa orang selalu
menilai berdasarkan kesalahan? Apakah seseorang dapat berubah menjadi lebih
baik? Berbagai pertanyaan muncul, dan sulit bagi kita untuk menjawabnya, bukan?
Saya percaya, tidak sedikit dari orang merasa malu
akan kesalahan yang pernah ia lakukan. Tentu saja, hal itu terjadi karena
berbagai alasan. Akan tetapi, untuk beberapa orang tertentu, ada yang tidak
merasa malu akan kesalahan yang ia perbuat. Hal ini, dapat kita lihat dari
berbagai sudut pandang. Bisa saja, ia bangga akan dirinya yang sekarang, dan
tidak malu menceritakan dirinya di masa lampau dengan tujuan untuk memotivasi
orang lain untuk menjadi lebih baik atau ada pula orang yang menceritakan
kesalahannya hanya untuk menerima pujian karena telah melakukan suatu hal
tertentu. Sudut pandang bersifat tidak terhingga, belum tentu dari seratus orang
akan memiliki pemikiran yang sama karena itulah bagaimana cara orang memandang
kita.
Apakah ada alasan untuk berubah menjadi lebih baik?
Tentu saja ada. Tanpa kita sadari, hari demi hari terlewati dan begitupula
dengan waktu. Disaat itu terjadi, kita juga akan bertambah usia. Tidak ada kata
yang tepat untuk menjelaskan betapa pentingnya merubah diri sendiri menjadi
lebih baik dari sebelumnya. Tepatnya, jangan sampai kita hidup hanya dengan
membuang-buang waktu dan melakukan hal-hal yang tidak seharusnya, terutama
hal-hal yang kita sudah tahu itu tidak baik untuk dilakukan. Siapa yang untung
dari hal ini? tentu saja diri kita sendiri, dan akan rugi bagi orang yang hanya
hidup dengan motto “hidup tanpa hari esok”.
Kebebasan, hedonisme, dan masih banyak lagi. Khususnya
hedonisme, yang mempunyai arti pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan
dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup (Tim penyusun, 2000:394). Pada
umumnya kaum hedonis ini beranggapan bahwa hidup ini hanya untuk satu kali.
Epikurus menyatakan, “Bergembiralah engkau hari ini. puaskanlah nafusmu, karena
esok engkau akan mati.” Hal-hal seperti ini sudah dapat kita temukan dalam
kehidupan masyarakat. Pola pikir seperti itu, dapat berdampak negatif bagi diri
sendiri dan mendatangkan banyaknya kerugian.
Jika kita tidak dapat merubah diri kita sendiri untuk
menjadi lebih baik, lalu bagaimana dengan nasib dunia ? Sudah saatnya kita
berpikir jauh ke depan. Masa depan yang menentukan adalah diri kita sendiri.
Sumber : Dewojati, Cahyaningrum.2015.Sastra Populer Indonesia. Gadjah Mada University Press.
Sumber : Dewojati, Cahyaningrum.2015.Sastra Populer Indonesia. Gadjah Mada University Press.
Komentar
Posting Komentar