LEMBARAN SENJA
LEMBARAN
SENJA
Lusiana Agustina
Hari ini adalah hari dimana aku akan
memulai lembaran baru. Lembaran baru itu artinya memulai segalanya dari awal,
bukan? Itulah yang kupikirkan. Untuk pertama kalinya, aku memutuskan untuk tersenyum.
Rasanya begitu aneh, karena sudah lama sekali aku tidak melakukannya. Bukan
hanya itu, aku juga menguncir rambut agar terlihat lebih rapi dari sebelumnya. Ku
melihat kearah cermin yang berada di depan, seketika aku teringat akan mimpi
tidurku. Dimana sebuah kisah kecil melewati benterang isi kepalaku.
Kisah yang ingin kurasakan,
kisah yang ingin kubayangkan. Terasa begitu nyata, tapi aku sadar jika
itu hanyalah bunga tidurku. Aku menuju ruang makan dan
menghampiri Ibu yang sedang menyiapkan sarapan pagi. Ibu terlihat terkejut
saat melihatku. Seperti melihat sosok hantu di pagi hari. Ia berjalan ke
arahku, dan menyentuh dahiku dengan begitu lembut. Aku terkejut dengan apa yang dilakukan
Ibu.
“Ada
apa denganmu, Maria? Kau terlihat berbeda?”
“Benarkah?”
aku mulai tersenyum manja padanya.
Ibu membalas seyumanku dengan tatapan manisnya padaku. Melihatnya
tersenyum seperti itu, membuatku sadar betapa lamanya diriku menyia-iakan waktu. Tanpa henti, Ibu tersenyum ke
arahku dengan tatapan tulusnya. Tanpa kusadari, hari ini adalah hari terakhir
dimana aku melihatnya tersenyum. Setelah sekian lama, aku berbincang
dengan Ibu dan ditemani oleh sarapan pagi. Ibu tiada
hentinya bercerita hal konyol padaku, dan itu membuatku tidak dapat berhenti
tertawa. Disela-sela itu, dengan senyum tipis aku melihat ke arah piring, disana aku dapat melihat bahwa
makanan yang awalnya penuh telah habis tanpa sisa.
“Mungkin,
ini terakhir kalinya.” Benakku.
Aku menyadari jika makanan ini akan menjadi
makanan terakhir yang akan kucicipi.
Setelah selesai, aku memutuskan
untuk pergi keliling kota. Dengan mengenakan pakaian terbaik dan sepatu yang
baru selesai kubersihkan. Aku menatap kearah cermin dan melihat betapa
siapnya diriku melakukan perjalanan. Aku begitu gugup untuk melakukan
perjalanan ini. Sebelum membuka pintu rumah. aku terdiam dan melihat kearah
Ibu, Ia sedang sibuk membereskan piring sehabis kami sarapan. Bahkan,
disela-sela kesibukannya aku dapat melihat dirinya tersenyum bahagia.
“Ibu, maafkan aku” dengan nada yang
hampir tidak terdengar, aku menaruh sepucuk surat di atas tempat sepatu. Tapi,
itu tidak membuatku merasa puas. Aku berlari kearahnya dan memeluknya dari
belakang. Aku memeluknya dengan erat, karena kutahu ini akan menjadi kenangan
terakhirku dengannya.
“Ada
apa, Maria?”
“Ibu,
aku ingin kau bahagia.” Dengan nada ragu dan pelan.
Tetesan air mata mulai membasahi raut
wajahku. Dengan segera, aku menghapusnya dan melepaskan pelukanku pada Ibu. Aku
tersenyum hangat padanya. Ibuku hanya melihat dengan tatapan sedihnya. Seakan
tahu, apa yang kupikirkan.
Aku membalikkan tubuh dan berjalan
menuju pintu rumah. Tanpa sepatah kata, kubuka pintu rumah dengan perlahan dan itu
artinya perjalanan pun dimulai. Aku dapat merasakan betapa segarnya udara pagi
di kota kecil ini. Sudah lama sekali, aku tidak merasakannya. Di kota inilah
aku dilahirkan dan juga, nafas terakhirku terhembuskan. Aku berjalan, terus
berjalan. Mengitari seluruh jalanan kecil
tanpa terlewatkan, bahkan lorong-lorong kecil pun tak lupa aku jumpai.
Sesekali aku memasuki toko satu persatu tanpa membeli satupun barang. Wajar
saja aku tidak membelinya, karena aku tidak memiliki sepeser uang. Jika aku
memiliki uang pun, itu tidak ada gunanya.
Kunikmati perjalanan ini setiap
detiknya. Aku mulai merekam semua kenangan ini dan menyimpan
baik-baik dibenakku. Sebenarnya, kota ini tidaklah terlalu kecil
seperti yang aku katakan. Akulah yang tidak menyadari jika kota ini
memiliki banyak sekali rahasia di dalamnya. Tanpa lelah aku terus melanjutkan
perjalanan. Kota kecil ini tidak banyak berubah seperti yang kubayangkan.
Anehnya, aku merasa hanya diriku yang berubah.
Selama
perjalanan, banyak orang yang terlihat heran melihat keberadaanku, bahkan tidak
sedikit dari mereka yang berbisik dan menertawakan. Tanpa peduli aku hanya tersenyum kecil
kearah mereka. Wajar saja jika mereka melakukan hal itu. Mungkin, mereka belum
dapat melupakan hari dimana aku mendapat cap sebagai wanita penggoda.
Bahkan, tidak sedikit dari mereka
menyebarkan dusta. Kata demi kata yang membentuk kalimat panjang. Menjadikan
kisah kebohongan yang abadi. Aku yang dituduh menggoda kekasih temanku.
Bukanlah, masalah yang dapat dilupakan sekejap di kota kecil ini. Karena hal
itu, Ayah dan Ibuku terkena akibatnya. Setiap hari mereka harus menerima rasa malu
akan diriku. Ayahku yang tidak percaya akan apa yang kukatakan, lebih memilih mempercayai
dusta itu. Rasa malu membuat Ayahku pergi entah kemana.
Tanpa henti, aku memasuki toko satu-persatu dan tentu saja tanpa membeli barang di toko itu. Aku melakukannya
karena, sudah lama aku ingin melihat barang-barang baru. Banyak pemilik toko
yang terlihat kesal akan tingkahku dan tidak memperbolehkanku untuk menyentuh
barang itu, tapi aku hanya tersenyum pada mereka. Toh, ini akibatnya jika tidak
memiliki uang. Di dunia ini, segalanya adalah uang. Tanpa uang, kau bukan siapa-siapa.
Kini langit biru berubah
menjadi senja. Cahaya surya senja menyinari kota ini begitu indah. Untuk itu, aku
berhenti di sebuah pohon tua. Ku berdiri disana cukup lama dan mulai duduk
untuk menikmati senja sore. Aku melihat ke arah langit. Dan untuk pertama
kalinya, aku merasa begitu damai.
“Seandainya
saja, aku melakukan ini sejak lama. Mungkin Ayah tidak akan pergi.”benakku.
Melihat hal sekecil apapun membuatku
sadar akan satu hal. Jika perasaanku ini, tidak akan ada orang yang memahaminya. Kehilangan segalanya
dalam sekejap membuatku terpuruk dan tidak tahu harus berbuat apa. Semua orang yang kukenal, pergi meninggalkanku satu
persatu. Aku sendiri, melewati ombak lautan yang menghadang. Aku tidak akan
pernah bisa melewati ombak itu sendirian. Memilih untuk mengucilkan
diri adalah hal dapat kulakukan saat itu.
Tiada henti aku memandang ke arah
langit, melihat sekawanan burung yang terbang bersamaan untuk kembali pulang ke
rumah. Terkadang aku berpikir
dalam benakku,
“Apakah burung tidak pernah lelah
menggepakkan sayapnya ?”.
Jika
dilihat dari kejauhan, Burung akan pergi bersama burung yang lainnya, Mereka
selalu bersama, bukan ?
Aku menghabiskan banyak waktu
disana. Berusaha memuaskan diri untuk menikmati senja sore di kota kecil ini. Matahari
hampir tenggelam, dan kupikir ini adalah saatnya. Aku beranjak dari tempat
duduk. Aku berdiri dan menyentuh pohon tua itu. Pohon ini usianya jauh
lebih tua dariku, mungkin lebih tua dari kehidupan di kota ini. Aku berusaha
melanjutkan perjalanan. Akan tetapi, langkahku terasa begitu berat. Seakan, ada
suatu hal yang membuat diriku goyah. Aku memutuskan untuk berhenti dan membalikkan
tubuhku yang goyah.
Dapat kulihat kota kecil ini begitu
indah dan betapa bahagianya warga disana. Melihatnya membuat jantungku berdebar
begitu cepat. Ada rasa ragu didalam diriku. Tapi, aku membalikkan tubuh membelakangi kota kecil itu. Aku khawatir jika matahari terlalu lama untuk
menunggu kedatanganku. Aku mulai berjalan, dan anehnya langkahku terasa begitu
ringan. Kurasa, aku lebih tenang. Aku berjalan sampai pada jembatan besi perbatasan
kota.
Aku berhenti di tengah dan
menyentuh pagar besi jembatan itu dengan perlahan. Terasa begitu hangat, aku
tahu jika matahari yang telah membuatnya
hangat. Aku melihat ke arah bawah. Dimana air sungai terlihat begitu jernih dan
berwarna sedikit kemerahan.Aku mulai berdiri di tepi, dan
membiarkan tubuhku yang goyah terhembuskan angin senja. Hari ini angin begitu
kencang, membuat jiwa dan ragaku, ikut terbang bersamanya. Sesekali, aku
menutup kedua mataku untuk merasakannya. Anehnya, aku dapat merasakan jika
matahari akan tenggelam sesaat lagi dan semua kenangan pada hari ini terlukis
jelas dalam bayangku.
Ini adalah keputusanku, aku tahu
jika Tuhan akan membencinya. Tapi, kuyakin jika Tuhan memberiku sebuah
kehidupan maka ia akan memberiku sebuah pilihan.
Dan
untuk terakhir kalinya aku berkata,
“Seandainya saja, aku melakukan ini lebih
awal.”
Komentar
Posting Komentar